Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja


Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja (Doktrin Agama Hanyalah Sebuah ‘Macan Kertas’)

Remaja dalam kehidupannya berada pada posisi yang samar dan dilematis, terkadang mereka dipandang sebagai anak, sementara di pihak lain mereka dituntut untuk berperan sebagai orang dewasa. Kondisi seperti ini menimbulkan kecanggungan remaja dalam bersikap dan bertingkah laku, memadu harga sosial dan peran minimal yang harus diekspresikan.

Sebagai akibat perubahan fisik dan sosial, tumbuh minat-minat baru yang secara garis besar dapat dikategorikan ke dalam minat sosial, minat pribadi, dan minat rekreasi. Di antara minat sosial yang paling menonjol pada saat ini adalah minat terhadap lawan jenis. Pada mulanya, minat ini hanya bersikap romantis, diikuti oleh perasaan yang kuat untuk memenangkan penghargaan dari lawan jenis. Heteroseksualitas atau minat terhadap anggota lawan jenis untuk bergaul dengan anggota lawan jenis, terutama bila pergaulan ini terbukti menyenangkan bagi individu-individu yang terlibat, juga memainkan peranan penting dalam menentukan minat ini akan berkembang sesuai dengan seberapa kuat minat tersebut.

Masa remaja adalah suatu stadium dalam siklus perkembangan anak. “Rentangan usia masa remaja berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun sampai 22 tahun bagi pria, jika dibagi atas remaja awal dan masa remaja akhir, maka masa remaja awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan masa remaja akhir dalam rentangan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun.” Periode sebelum masa remaja ini disebut sebagai ‘ambang pintu masa remaja’ atau sering disebut sebagai periode pubertas.

Masa remaja, merupakan masa di mana seorang anak terlihat adanya perubahan-perubahan pada bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan struktur dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Pematangan kelenjar seksual berpengaruh pada proses pertumbuhan tubuh sehingga remaja mendapatkan ciri-cirinya sebagai perempuan dewasa atau laki-laki dewasa.

Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin, misalnya pada remaja putri ditandai dengan pembesaran pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pembesaran suara, tumbuh bulu di dada, kaki dan kumis. Pada masa-masa seperti inilah remaja mulai menunjukkan perilaku-perilaku seksual.

Perilaku seksual merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis. Perilaku seksual ini sangat luas sifatnya. Contohnya antara lain mulai dari berdandan, melirik, merayu, menggoda, bersiul sekaligus juga yang terkait dengan aktivitas dan hubungan seksual. Aktivitas seksual merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ kelamin atau seksual melalui berbagai perilaku.

Perilaku seksual memang merupakan masalah yang rumit khususnya bagi remaja. Remaja harus berusaha untuk menahan dorongan seksual agar dorongan tersebut tidak menjurus kepada hubungan seksual pranikah. Karena hubungan seks, bagi masyarakat dan ajaran agama kita, hanya boleh dilakukan dalam sebuah ikatan pernikahan. Seks di luar nikah merupakan sebuah dosa besar. Untuk dapat berhubungan seks, orang harus sudah menjalani akad nikah, memberi mahar, menghadirkan saksi, wali, mendatangkan penghulu dan sebagainya.

Sedangkan persyaratan pernikahan semakin lama semakin berat. Sebelum menikah, seseorang perlu menyelesaikan pendidikan dahulu, mendapatkan pekerjaan tetap dan sebagainya. Tuntutan tersebut tidak hanya pada pihak pria, tetapi pihak wanita pun harus mempersiapkan diri cukup lama untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

Dengan demikian usia pernikahan tertunda karena faktor sosial ekonomi di atas, pada saat yang sama dorongan seksual secara alamiah mulai timbul sejak remaja itu memasuki usia akil baligh. Dalam rentangan waktu antara awal akhil baligh dan saat remaja siap untuk suatu pernikahan mereka harus dapat menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama dan adat dan dalam masa yang sama mereka semakin berhadapan dengan hal yang menimbulkan dorongan seksual. Seperti film cabul, bacaan maupun gambar porno, lokalisasi WTS, tempat-tempat hiburan dan sebagainya.

Mudah dimengerti apabila makin banyak remaja yang tidak dapat menahan diri, sehingga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama dan adat yang masih berlaku. Apalagi penerapan dan pendidikan seks yang hampir-hampir tidak pernah mereka terima, baik dari orang tua maupun pendidik lainnya, remaja seperti dibiarkan dalam kegelapan dan menjadi korban dari tabu dan perasaan malu. Mereka hanya mendapatkan pengetahuan seks dari teman-teman terdekat, hal ini malah menimbulkan masalah baru di kalangan remaja.

Loetan seorang ahli rehabilitasi medik mengatakan: Pengetahuan remaja mengenai seks yang didapatnya dari teman-temannya juga menjadi suatu masalah, karena teman-teman tersebut sama tidak tahu dan mengertinya. Akibatnya apa yang diberi tahu teman biasanya selalu salah, apalagi pengetahuan yang didapat dari film porno. Kurangnya bimbingan dari orang tua, katanya, karena selama ini pembicaraan mengenai seks dianggap tabu. Selain itu banyak orang tuan saat ini sibuk. Teman adalah orang-orang yang paling sering dan mudah untuk ditemui dan biasanya sesama teman saling melindungi satu sama lain. Oleh karena itu wajar saja bila mereka saling bercerita satu sama lain mengenai seks.

Atas dasar sifat-sifat perkembangan serta kecenderungan seperti disebutkan di atas, dan dengan tidak mengenyampingkan aspek perkembangan lainnya, perhatian terhadap masalah perilaku seksual remaja perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Kelalaian terhadap masalah ini dapat menimbulkan dampak negatif yang serius dan berkepanjangan terhadap remaja, baik secara medis, psikologis, sosiologis, dan agama.

Ajaran agama sudah jelas menilai penyimpangan perilaku seks sebagai perbuatan berbuah dosa. Biasanya para pemeluk agama menghindari perilaku haram itu. Akan tetapi fenomena ini di kalangan remaja muslim tidak begitu, sebagian mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa. Doktrin agama yang melarang penyimpangan seks melalui pesan-pesan agama hanyalah sebuah ‘macan kertas’.

Mengapa permasalahan tersebut bisa terjadi di kalangan remaja muslim yang telah banyak memperoleh pengetahuan agama, bahkan hidup dalam iklim religius yang sangat ketat. Apakah pendidikan Islam dengan nilai-nilai keIslam-annya tidak mampu mempengaruhi perilaku seksual yang menyimpang? Ataukah karena kurangnya pengetahuan seks yang mereka terima sehingga penyimpangan perilaku seksual tidak dapat dihindari? Atau mungkin juga masih ada faktor lain yang menyebabkan hal tersebut?

Ikhwal kebebasan seks di kalangan remaja bukanlah hal yang aneh. Tapi cukup mengagetkan jika ternyata pelakunya banyak dari kalangan yang mempunyai latar belakang remaja yang taat beragama. Kalau dicari akar penyebabnya, barangkali pergaulan bebas di lingkungan mereka tinggal itulah yang menjadikan seks tidak lagi sebagai perilaku yang harus dijauhi.

Mengenai peranan pengetahuan agama dan pengetahuan seksual terhadap penyimpangan perilaku seksual dapat dilihat berdasarkan sebuah penelitian atas 82 orang responden di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Provinsi Bengkulu yang menyimpulkan bahwa peranan pengetahuan agama terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa sebesar 0.14% sedangkan 99.86% disebabkan oleh faktor atau variabel lain. Jika diinterprestasikan maka peranan pengetahuan agama terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa tidak terdapat korelasi yang signifikan. Hal inilah yang menyebabkan tingginya penyimpangan perilaku seksual mahasiswa.

Berdasarkan angket yang jawab oleh 82 responden terdapat 2.44% (2 orang) yang mengaku pernah berhubungan seks pranikah. 43.90% (36 orang) sering berdandan yang mendorong hasrat seksual, 65.85% (54 orang) merasa nyaman berbicara tentang seksual dengan teman, 75.61% (62 orang) pernah menonton atau melihat media massa yang mendorong hasrat seksual, 17.07% (14 orang) pernah melakukan masturbasi atau onani, 40.24% (33 orang) pernah berciuman, 45.12% (37 orang) pernah berpelukan, 42.68% (35 orang) pernah membelai atau dibelai lawan jenis, 14.63% (12 orang) pernah meraba atau diraba payudara, 10.98% (9 orang) pernah meraba atau diraba alat kelamin, walaupun rata-rata pada tahap kadang-kadang atau jarang. Setelah melakukan aktivitas seksual 17.07% (14 orang) responden mengaku merasa ketagihan dan 37.80% (51 orang) merasa berdosa dan merasa masa bodoh.

Temuan ini sejalan dengan sebuah hasil penelitian yang membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan perilaku seksual remaja yang memiliki keyakinan beragama yang kuat dengan yang tidak memiliki keyakinan beragama yang kuat. Penelitian yang dimaksud adalah terhadap sejumlah remaja berusia 15-20 tahun di beberapa kota yaitu Jakarta, Purwokerto, Banjarnegara, Pontianak.

Berdasarkan pengalaman responden mengenai perilaku seksnya, mereka dibagi dalam empat golongan, yaitu: (A) yang belum pernah melakukan sesuatu, (B) yang sudah berciuman dan atau bermasturbasi, (C) yang sudah bercumbuan sampai menempelkan alat kelamin, tetapi belum bersanggama, (D) yang sudah bersanggama. Ternyata golongan D yang tidak kurang ketaatan beragamanya daripada golongan lainnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal keyakinan beragama antara keempat golongan remaja tersebut, kecuali pada keteraturan beribadah yang memang menunjukkan sedikit penurunan.

Perusahan riset internasional Synovatate atas nama DKT Indonesia yang melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun. Penelitian ini dilakukan terhadap 450 responden dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan 64% remaja mengakui secara sadar bahwa kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan perilaku seksual mereka.

Peranan pengetahuan seks terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa sebesar 3.60% sedangkan 96.40% disebabkan oleh faktor atau variabel lain. Jika diinterprestasikan maka peranan pengetahuan seks terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa dengan memperhatikan faktor lainnya yang berpengaruh bisa disimpulkan terdapat korelasi yang cukup signifikan. Berdasarkan temuan kedua ini penulis berpendapat perlunya memberikan pendidikan seks dalam rangka peningkatan pengetahuan seks remaja, karena dengan semakin banyak pendidikan seks yang diperoleh maka fenomena penyimpangan perilaku seksual remaja akan semakin teratasi.

Peranan pengetahuan agama dan pengetahuan seks terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa sebesar 20% sedangkan 80% disebabkan oleh faktor atau variabel lain. Jika diinterprestasikan ternyata peranan pengetahuan agama dan pengetahuan seks terhadap penyimpangan perilaku seksual mahasiswa terdapat korelasi yang sedang atau cukup signifikan.

Pendidikan seks di Indonesia seyogianya tetap di mulai dari rumah. Salah satu alasan utamanya adalah karena masalah seks ini merupakan masalah pribadi, yang kalau hendak dijadikan materi pendidikan juga perlu penyampaian yang pribadi, remaja mendambakan untuk memperoleh informasi seks dari orang tuanya.

Dampak penyimpangan perilaku seksual yang tidak sedikit, yang semakin hari semakin meluas. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk pemecahan penyimpangan ini. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai solusi dari fenomena ini, antara lain:

1. Pendidikan moral atau agama yang cukup diharapkan dapat membentengi remaja dari penyimpangan perilaku seksual yang berujung kepada seks bebas di kalangan remaja.

2. Pendidikan seks bagi remaja sangat diperlukan agar remaja dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

3. Perhatian serta teladan dari orang tua sangat diperlukan oleh seorang remaja, agar mereka terhindar dari penyimpangan perilaku seksual yang kepada seks bebas. Demikian signifikannya peranan pengetahuan agama yang mencapai akar substansialnya serta pengetahuan seksual yang memadai dapat memecahkan fenomena penyimpangan perilaku seksual di kalangan remaja.

Daftar Kepustakaan :

Al-Ghifari, Abu. 2003. Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern. Bandung: Mujahid Press

———–. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung: Mujahid Press

Amin, Muh. Kasim Mugi. 1997. Kiat Selamatkan Cinta Pendidikan Seks Bagi Remaja Muslim. Yogyakarta: Titipan Ilahi Press

Daradjat, Zakiah. 1995. Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah. Jakarta: Ruhama

Kirkendall, Lister A. 1985. Anak dan Masalah Seks. Jakarta: Bulan Bintang

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta Yakan, Fathi. 1972. Islam dan Seks. Jakarta: CV. Firdaus

About these ads

Tentang Dayat Chem

Putra Ramatuan Rambut ikal tapi ganteng githu loe
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s