Pengantar Psikologi Umum


BAB I

PENGERTIAN, KEDUDUKAN DAN METODE-METODE

DALAM PSIKOLOGI

1.   PENGANTAR

Ditinjau dari segi ilmu bahasa, perkataan psikologi ini berasal dari perkataan Psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.

Namun demikian ada sementara ahli yang kurang sependapat bahwa pengertian psikologi itu benar-benar sama dengan ilmu jiwa, walaupun ditinjau dari arti kata kedua istilah itu sarna. Hal ini seperti yang di­kemukakan oleh Gerungan sebagai berikut :

Arti kata kedua istilah tersebut menurut isinja sebenarnja sama, sebab kata psychologi itu mengandung kata psyche, jang dalam bahasa Yunani berarti djiwa dan kata logos jang dapat diterdjemah­kan dengan kata ‘ilmu’, sehingga istilah ‘ilmu djiwa’ itu merupakan terdjemahan belaka daripada istilah ‘psychologi’. Walaupun demi­kian, namun kami pergunakan kedua istilah dengan berganti-ganti dan dengan kesadaran adanja perbedaan jang djelas dalam artinja. lalah sebagai berikut :

  1. Ilmu djiwa itu merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan jang dikenal tiap-tiap orang, sehingga kamipun menggunakan­nja: dalam artinja jang Iuas dan telah lazim dipahami orang. Sedangkan kata psychologi itu merupakan suatu istilah ‘ilmu pengetahuan’ suatu istilah jang ‘scientific’, sehingga kami per­gunakannja untuk menundjukkan kepada pengetahuan ilmu djiwa jang bertjorak ilmiah tertentu.
  2. Ilmu djiwa kami pergunakan dalam arti jang Iebih luas daripada istilah psychologi. llmu djiwa meliputi segala pemikiran, penge­tahuan, tanggapan, tetapi djuga segala chajalan dan spekulasi mengenai djiwa itu. Psychologi meliputi ilmu pengetahuan me­ngenai djiwa jang diperoleh setjara sistematis dengan metode metode ilmiah jang memenuhi sjarat-sjaratnja jang dimufakati sardjana-sardjana psychologi pada zaman sekarang ini. Istilah ilmu djiwa menundjukkan kepada ilmu djiwa pada umumnja, sedangkan istilah psychologi menundjukkan ilmu djiwa jang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern.

Dengan demikian kiranja agak djelas, bahwa apa sadja jang kami sebut ilmu djiwa itu belum tentulah ‘psychologi’, tetapi psychologi itu senantiasa djuga iImu djiwa” (Gerungan, 1966 : 6).

Dengan contoh sekelumit ini menurut pandangan Gerungan adanya segi-segi perbedaan antara ilmu jiwa dengan psikologi. Psikologi merupa­kan ilmu jiwa yang ilmiah, yang scientific. Karena itu dalam mempelajari psikologi harus dari sudut ilmu, sebagai suatu science sebagai suatu iImu. Hal ini juga dikemukakan oleh Sartain dkk (1967 : 3) Many people now insist on·sudying psychology as a science.

Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi juga mempunyai tugas­-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada umumnya. Adapun tugas psikologi ialah :

  1. Mengadakan deskripsi; yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang dipersoalkan atau dibicarakan.
  2. Menerangkan; yaitu tugas untuk menerangkan keadaan atau kon­disi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut.
  3. Menyusun teori; yaitu tugas mencari dan merumuskan hukum­-hukum atau ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara peris­tiwa satu dengan peristiwa lain atau kondisi satu dengan kondisi lain.
  4. Prediksi; yaitu tugas untuk membuat ramalan (prediksi) .atau estimasi mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi atau gejala-gejala yang akan muncul.
  5. Pengendalian; yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur peristiwa-peristiwa atau gejala.

Demikianlah tugas-tugas dari ilmu pada umumnya, tidak terkecuali mengenai psikologi.

Seperti telah dipaparkan di depan karena psikologi merupakan suatu ilmu, maka dengan sendirinya psikologi juga mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat seperti ilmu-ilmu yang lain, selain tersebut di atas. Berkaitan dengan hal tersebut psikologi mempunyai:

  1. objek tertentu
  2. metode pendekatan atau penelitian tertentu
  3. sistematika yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya
  4. mempunyai riwayat atau sejarah tertentu.

Psikologi sebagai suatu ilmu, tidak lepas dari segi perkembangan dari psikologi itu sendiri serta ilmu-ilmu yang lain. Dari waktu ke waktu psikologi sebagai suatu ilmu akan mengalami perkembangan, sesuai dengan perkembangan keadaan. Oleh karena itu psikologi sebagai suatu ilmu mempunyai sejarah tersendiri, hingga merupakan psikologi dalam bentuk yang sekarang ini. Dari pemikiran para ahli yang mungkin saling mempunyai pandangan yang berbeda akan memacu perkembangan dari psiko­logi itu. Secara jelas dan tuntas tentang perkembangan psikologi itu, akan dapat ditelaah dalam sejarah perkembangan psikologi.

Oleh karena yang mengadakan pendekatan dalam penyelidikan itu manusia, yang di samping mempunyai sifat-sifat kesamaan juga mempu­nyai sifat-sifat perbedaan, maka para ahli dalam mengadakan peninjauan terhadap objek atau masalah besar kemungkinannya akan terdapat per­bedaan pula. Perbedaan dalam segi pandangan itulah yang akan membawa perbedaan dalam segi orientasi terhadap masalah yang dihadapi. lnilah yang menyebabkan adanya perbedaan segi pandangan dari seorang ahli dengan ahli-ahli yang lain.

2.    PENGERTIAN PSIKOLOGI

Perbedaan pandangan bukanlah merupakan hal yang baru dalam lapangan ilmu lebih-lebih dalam lapangan ilmu sosial. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandangan sendiri-sendiri mana yang dianggap penting, sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya. Perbedaan pandangan ini mungkin karena perbedaan bidang studi ataupun metode yang digunakan dalam pendekatan masalah. lni akan jelas apabila dilihat tentang batasan apakah yang dirnaksud dengan psikologi itu.

Karena psikologi itu merupakan ilmu mengenai jiwa, maka persoalan yang pertama-tama timbul ialah apakah yang diinaksud dengan jiwa itu. Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini bukanlah merupakan hal yang mudah seperti diperkirakan orang banyak.

Jiwa sebagai kekuatan hidup (levens beginseI) atau sebabnya hidup telah pula dikemukakan oleh Aristoteles, yang memandang ilrnu jiwa sebagai ilrnu yang mempelajari gejala-gejala kehidupan. Jiwa adalah meru­pakan unsur kehidupan, karena itu tiap-tiap makhIuk hidup mempunyai jiwa. Jadi baik manusia, hewan rnaupun tumbuh-tumbuhan menurut pendapat Aristoteles adalah berjiwa atau beranima. Karena itu maka ter­dapatIah 3 macam anima, yaitu :

1)      anima vegetativa, yaitu anima atau jiwa yang terdapat pada tumbuh­tumbuhan, yang mempunyai kemampuan untuk makan-minum dan berkembang biak,

2)      anima sentitiva, yaitu anirna atau jiwa yang terdapat pada kalangan hewan yang di samping mempunyai kemampuan-kemampuan seperti pada anima vegetativa juga mempunyai kemampuan-kemampuan untuk berpindah tempat, mempunyai nafsu, dapat mengamati, dapat me­nyipan pengalaman-pengalamannya.

3)      anima intelektiva, yaitu yang terdapat pada rnanusia, selain mempunyai kemampuan-kernampuan seperti yang terdapat pada lapangan hewan masih mempunyai kemampuan lain yaitu berfikir dan berkemauan. (Bigot, Kohstamm, Palland, 1950).

Menurut pandangan Aristoteles anima yang lebih tinggi mencakup sifat-sifat atau kernampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anima yang lebih rendah. Anima intelektiva merupakan tingkatan anima yang paling tinggi, sedangkan anima vegetativa merupakan anima yang terendah. Pengertian jiwa atau psyche sebagai unsur kehidupan (the principle of life) juga dikemukan oleh Drever (1960). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian jiwa itu adalah sebagai unsur kehidupan yang oleh Ki Hadjar Dewantara dibatasi pada unsur kehidupan pada manusia.

Lalu apa yang dimaksud dengan psikologi itu’? Untuk memberikan jawaban ini baik1ah dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli yang menunjukkan adanya pandangan yang berbeda seperti telah dipaparkan di muka. Sebagai contoh baiklah dikemukakan beberapa pendapat, antara lain :

Menurut Wundt (lih. Davidoff, 1981) psikologi itu merupakan ilmu tentang kesadaran rnanusia (the science of human consciousness). Para ahli psikologi akan mempelajari proses-proses elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini dapat dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi itu.

Di samping itu Woodworth dan Marquis (1957) mengajukan pen­dapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu. Secara lengkap dikemukakan :

Psychology can be defined as the science of the activities of the individual. The word “activity” is used here in very broad sense. It includes not only motor activities like walking and speaking, but also cognitive (knowledge getting) activities like seeing, hear­ing, remembering and thinking, and emotional activities like laugh­ing and crying, and feeling or sad. (Woodworth and Marquis, 1957: 3).

Dari apa yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis tersebut jelas memberikan gambaran bahwa psikologi itu mempelajari aktivitas-aktivitas individu, pengertian aktivitas dalam arti yang luas, baik aktivitas motorik, kognitif, maupun emosional. Kalau pada Wundt digunakan pengertian kesadaran, maka pada Woodworth dan Marquis digunakan aktivitas­-aktivitas. Namun keduanya baik kesadaran maupun aktivitas-aktivitas, hal tersebut menggambarkan tentang refleksi dari kehidupan kejiwaan.

Menurut Branca [1964) dalam bukunya yang berjudul Psychology: The Science of Behavior, telah jelas bahwa yang dimaksud dengan psi­kologi itu merupakan ilmu tentang tingkah laku. Dalam paparannya di­kemukakan

When the interest of men turns toward the actions of human beings, and when that interest takes the form of accurate observation, exact descriptions, and experimental study of human behavior, the science of psychology emerges. (Branca, 1964 : 2).

Selanjutnya dalam bagian lain Branca mengemukakan ” …….General psychology is the starting place and the core of the study of human behavior”. (Branca, 1964; 20). Dari apa yang dikemukakan oleh Branca tersebut dapat ditarik pendapat bahwa psikologi merupakan ilmu ten­tang tingkah laku, dan dalam hal ini adalah menyangkut tingkah laku manusia. Namun demikian ini tidak berarti bahwa tingkah laku hewan tidak dikemukakan. Hal ini tergambar dalam bagian-bagian yang mengemukakan tentang penelitian-penelitian yang dilakukan dalam lapang­an hewan.

Senada dengan yang dikemukakan oleh Branca dikemukakan pula oleh Morgan dkk (I984 : 4) yang menyatakan bahwa Psychology is the science of human and animal behavior, narnun pengetrapan dari ilmu itu pada rnanusia. Demikian pula yang dikemukakan oleh Sartain dkk. (1967 : 19) yang menyatakan bahwa psikologi itu merupakan the science of human behavior. Tetapi para ahli psikologi juga mempelajari tingkah laku hewan, dan dari hasil penelitian tersebut mungkin dapat berguna untuk mengerti tentang keadaan rnanusia. Bila ditelaah pendapat dari Woodworth dan Marquis, Branca, Morgan dkk., dan Sartain dkk. kiranya menunjukkan keadaan yang senada. Namun demikian dengan contoh­contoh tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa para ahli itu tidak mempunyai kata sepakat yang seratus persen sarna satu dengan yang lainnya,seperti telah dikemukakan oleh Drever tersebut di atas.

Seperti telah dikemukakan di atas psikologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi oleh karena jiwa itu sendiri tidak rnenampak, rnaka yang dapat dilihat atau dapat diobservasi ialah tingkah laku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa itu. Hal ini dapat dilihat dalam tingkah laku maupun aktivitas-aktivitas yang lain. Karena itu psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas, di mana tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Tingkah laku atau aktivitas-akti­vitas di sini adalah dalam pengertian yang luas, yaitu meliputi tingkah laku yang menampak (overt behavior) dan juga tingkah laku yang tidak menampak (innert behavior), atau kalau yang dikemukakan oleh Wood-worth dan Marquis iaIah baik aktivitas motorik, aktivitas kognitif, mau­pun aktivitas emosional.

3.   TINGKAH LAKU MANUSIA

Seperti telah dipaparkan di depan bahwa psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku, dengan pengertian bahwa tingkah laku atau aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi kehidupan psikis. Telah dikemukakan oleh Branca (1964), Woodworth dan Marquis (1957), Sartain dkk. (I 967), dan Morgan dkk. (1984) bahwa yang diselidiki atau dipelajari dalam psikologi ini baik tingkah laku manusia maupun hewan. Namun demikian hasil dan penelitian itu dikaitkan untuk dapat mengerti tentang keadaan manusia. Dengan demikian maka dalam psikologi itu fokusnya adalah manusia.

Sebagaimana di ketahui bahwa tingkah laku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu. Tingkah laku atau aktivitas itu merupakan jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya. Namun selanjutnya dikemukakan oleh Woodworth dan Schlosberg bahwa apa yang ada dalam diri organisme itu yang berperan memberikan respons adalah apa yang telah ada pada diri organisme, atau apa yang telah pernah dipelajari oleh organisme yang bersangkutan.

Tingkah laku pada manusia dapat dibedakan antara tingkah laku yang refleksi dan tingkah laku yang non-refleksif. Tingkah laku yang refleksif merupakan tingkah laku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Misalnya reaksi kedip mata bila kena sinar; gerak lutut bila kena sentuhan palu; menarik jari bila jari kena api dan sebagainya. Reaksi atau tingkah laku refleksif adalah tingkah laku yang terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Stimulus yang diterima oleh organisme atau individu tidak sampai ke pusat susunan syaraf at au otak, sebagai pusat kesadaran, sebagai pusat pengendali dad tingkah laku manusia. Dalam tingkah laku yang refleksif respons langsung timbul begitu menerima stimulus.

Lain halnya dengan tingkah laku yang non-refleksif. Tingkah laku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Dalam kaitan ini stimulus setelah diterima oleh reseptor kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi respons mela1ui afektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologis. Tingkah laku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psiko1ogis atau tingkah laku psikologis (Branca, 1964).

Pada tingkah laku manusia, tingkah laku psikologis inilah yang dominan, merupakan tingkah laku yang banyak pada diri manusia, di samping adanya tingkah laku yang refleksif. Tingkah laku refleksif pada dasarnya tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut karena tingkah laku refleksif merupakan tingkah laku yang alami, bukan tingkah laku yang dibentuk. Hal tersebut akan lain bila dilihat tingkah laku yang non ref1eksif. Tingkah laku ini rnerupakan tingkah laku yang dibentuk, dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar. Di samping tingkah laku manusia dapat dikendalikan atau terkendali, yang berarti bahwa tingkah laku itu dapat diatur oleh individu yang bersangkutan, tingkah laku manusia juga merupakan tingkah 1aku yang terintegrasi (integrated), yang berarti bahwa keseluruh­an keadaan individu atau manusia itu terlibat dalam tingkah laku yang bersangkutan, bukan bagian demi bagian. Karena begitu kompleksnya tingkah Iaku rnanusia itu, maka psikologi ingin memahami tingkah laku tersebut.

3. LETAK PSIKOLOGI DALAM SISTEMATIKA ILMU

Bagaimana letak psikologi dalam sistematika ilmu? Untuk meninjau ini secara mendalam dapat dipelajari dalam sejarah psikologi. Tetapi dalam kesempatan ini bukanlah maksud penulis untuk mengemukakan tentang sejarah psikologi, namun hanya untuk sekedar memberikan gambaran sekilas tentang perkembangan psikologi.

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya iImu pada waktu itu. Karena itu ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat. Demikian pula halnya dengan psikologi.

Tetapi lama kelamaan disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup Iagi hanya diterangkan dengan filsafat. Dengan demikian maka kemudian ilmu pengetahuan alam misalnya memisahkan diri dari filsafat, dan berdiri sendiri sebagai iImu yang mandiri (Marx, 1976). Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan alam membutuhkan hal-hal yang bersifat obyektif, yang bersifat positif, dan ini tidak dapat dicapai dengan menggunakan filsafat. Demikianlah maka kemudian ilmu-iImu yang lain juga memisahkan diri dari filsafat termasuk pula psikologi. Psikologi yang mula-mula tergabung dalam filsafat, akhirnya rnemisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri. Hal ini adalah jasa dari Wilhelm Wundt yang mendirikan labora­torium psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 untuk menyelidiki peristiwa-peristiwa kejiwaan secara eksperimental.

Wundt sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang psikologi melainkan seorang fisiolog, akan tetapi beliau mempunyai pandangan bahwa fisiologi dapat dipandang sebagai ilmu pembantu dari psikologi, dan psikologi haruslah berdiri sendiri sebagai suatu ilmu pengetahuan yang tidak ter­gabung atau tergantung kepada ilmu-ilmu yang lain. Di daIam laboratoriumnya, Wundt mengadakan eksperimen-eksperimen dalam rangka penyelidik­an-penyelidikannya, sehingga beliau dipandang sebagai bapak dari psiko­logi eksperimental. Tetapi ini tidak berarti bahwa baru pada Wundt-lah dimulai eksperimen-eksperimen, scbab telah ada ahli-ahli lain yang me­rintisnya antara lain Fechner dan Helmholtz. Namun demikian baru pada Wundt-lah penyelidikan dilakukan secara Iaboratorium eksperimental yang lebih intensif dan sistematis. Laboratorium Wundt kemudian menjadi pusat penyelidikan dari banyak ah1i untuk mengadakan eksperimen­-eksperimen antara lain Kraeplin, Kulpe, Meumann, Marbe. Dengan per­kembangan ini maka berubahlah psikologi yang tadinya bersifat filosofis menjadi psikologi yang bersifat empiris. Kalau mula-mula psikologi mendasarkan diri atas renungan-renungan, atas spekulasi, maka psikologi kemudian mendasarkan atas hal-hal yang objektif, hal-hal yang positif, dan kemudian makin berkembanglah psikologi empiris itu. Perkembangan ilmu fisika (physical science) dan ilmu kimia (chemistry) mempengaruhi tirnbulnya ilmu biologi (biological science). Salah satu dari ilmu biologi adalah ilmu tingkah laku (behavioral science). Dalam kaitan ini, maka psikologi merupakan salah satu yang termasuk dalam ilmu tingkah laku, di samping antropologi dan sosiologi (Marx, 1976). Dengan demikian maka akan jelas bahwa psikologi sebagai suatu ilmu, merupakan ilmu tentang tingkah laku dan merupakan ilmu yang berdiri sendiri tidak tergabung dalam ilmu-ilmu yang lain.

5.   HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAIN

Seperti telah dikemukakan di atas psikologi merupakan ilmu yang telah mandiri, tidak tergabung dalam ilmu-ilmu lain. Namun demikian tidak boleh dipandang bahwa psiko1ogi itu sarna sekali terlepas dari ilmu­-ilmu yang lain. Dalam hal ini psikologi rnasih mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu tersebut.

Psikologi sebagai ilmu yang meneropong atau mempelajari keadaan manusia, sudah barang tentu psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia. Hal ini akan memberi garnbaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipeiajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai makhluk budaya maka psikologi akan niempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan, dengan filsafat, dengan antropologi. Dalarn kesempatan ini akan ditinjau hubungan psi­kologi dengan beberapa ilmu sebagai berikut :

a. Hubungan Psikologi dengan Biologi

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup menjadi objek dari biologi. Oleh karena biologi berobjekan benda-benda yang hidup, maka cukup banyak ilmu yang tergabung di daIamnya. Oleh karena itu baik biologi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut yang berlainan, namun pada segi-segi yang tertentu kadang-kadang kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi, khusus­nya antropobiologi tidak mempelajari tentang proses-proses kejiwaan, dan inilah yang dipelajari oleh psikologi.

Seperti telah dikemukakan di atas di samping adanya hal-hal yang berlainan tampak pula adanya hal-hal yang sama-sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya soal keturunan. Mengenai soal keturunan baik psikologi maupun antropobiologi juga membicarakan mengenai hal ini. Soal keturunan ditinjau dari segi biologi ialah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari suatu generasi ke generasi lain; mengenai soal ini misalnya yang terkenal dengan hukum Mendel. Soal keturunan juga dipelajari oleh biologi antara lain misalnya sifat, inteligensi, bakat. Karena itu kurang­lah sempurna kalau kita mempelajari psikologi tanpa mempelajari biologi khususnya antropobiologi maupun fisiologi, justru karena ilmu-ilmu ini membantu di dalam orang mempelajari psikologi.

b. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi

Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek dari sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di dalarn hidup bermasyarakatnya. Karena itu balk psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia, tidaklah meng­herankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan di dalam meninjau manusia itu, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi ialah bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang di­dorong oleh motif tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau ber­buat.

c. Hubungan Psikologi dengan Filsafat

Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan obyek dari filsafat yang antara lain membicarakan soal hakekat kodrat manusia, tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya me­misahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai salah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat.

Bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah me­misahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang menyangkut sifat hakekat serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu.

d. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam

Ihnu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan alam mem­pengaruhi perkembangan metode da1am psikologi. Karenanya sementara ahli beranggapan kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam. Apa yang ditempuh oleh Weber, Fechner, Wundt sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan dalam lapangan ilmu pengetahuan alam. Metode yang ditempuh oleh Fechner yang dikenal dengan metode psikofisik, suatu metode yang tertua dalam lapangan psikologi eksperimental, banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan amm (Woodworth, 1951). Meru­pakan suatu kenyataan karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi mendapatkan kemajuan yang cukup cepat, sehingga akhirnya psikologi dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat; walaupun akhirnya ternyata bahwa metode ilmu pengetahuan alam kurang mungkin digunakan seluruhnya terhadap psikologi, disebabkan karena perbedaan dalam objeknya. Ilmu pengetahuan alam berobjekkan benda-benda mati, sedangkan psikologi berobjekkan manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamis, makhluk yang berkebudayaan, makhluk yang berkembang dan dapat berubah setiap saat.

Seperti telah dikemukakan di atas psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan biologi, sosiologi, filsafat, ilmu pengetahuan alam, tctapi ini tidak berarti bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain di luar ilmu-ilmu tersebut. Justru karena psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai makhluk yang bersegi banyak, makhluk yang bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lain. Tetapi sebaliknya setiap cabang ilmu yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna bila tidak mengambil pelajaran dari psikologi. Dengan demikian akan terdapat hubungan yang timbal balik.

6.   PSIKOLOGI FILOSOFIS DAN PSIKOLOGI EMPIRIS

Di atas telah dikemukakan sewaktu psikologi masih tergabung dalam filsafat, segala persoalan yang ada dalam psikologi dipengaruhi oleh filsafat, antara lain mengenai metodenya. Pada waktu itu hal-hal yang dicapai dalam psikologi belumlah berdasarkan atas keadaan yang objektif, keadaan yang positif, melainkan atas dasar renungan-renungan saja atau dengan kata lain atas dasar spekulasi. Karena itu psikologi pada waktu itu masih bersifat spekulatit. belum bersifat positif. Karena psikologi mempelajari hal-hal yang di luar atau di belakang keadaan yang nyata, maka psikologi yang bersifat spekulatif juga sering disebut psikologi metafisis.

Sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu pada umumnya, maka psi­kologi filosofis tidak memuaskan lagi, lebih-lebih bagi para ahli yang membutuhkan hal-hal yang objektif, yang positif dan yang berdasarkan atas pengalaman-pengalaman atau empiris. Karena itu metode yang spekulatif ditinggalkan dan dirintis metode baru yang berdasarkan atas empiri, dan ini menimbulkan psikologi yang empiris.

Apakah psikologi yang mendasarkan atas spekulasi itu bukan me­rupakan suatu ilmu, hal ini merupakan suatu hal yang sukar dijawab, yang terang bahwa dalam taraf semacam itu belumlah mendasarkan atas keadaan yang objektif, yang pada umumnya dituntut oleh ilmu pada waktu ini.

7.   RUANG LINGKUP PSIKOLOGI

Dilihat dari segi objek­nya, psikologi dapat digolongkan sebagai berikut:

a). psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia,

b). psikologi yang menyelidiki dan mempelajari hewan, yang umum­nya lebih tegas disebut psikologi hewan.

Dalam tulisan ini tidak akan dibicarakan psikologi yang mem­bicarakan hewan atau psikologi hewan. Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini ialah psikologi yang berobjekkan manusia (Walaupun kadang-­kadang dikemukakan eksperimen-eksperimen dalam hewan), yang sampai pada waktu ini masih dibedakan adanya psikologi yang bersifat umum dan psikologi yang khusus.

Psikologi umum ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas psikis manusia yang tercermin dalam tingkah laku pada umumnya, yang dewasa, yang normal dan yang beradab (ber-kultur). Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umurn dari kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis. Dalam psiko­logi umum memandang manusia seakan-akan terlepas dari manusia yang lain.

Psikologi khusus ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia. Hal-hal yang khusus yang menyimpang dart hal-hal yang umun dibicarakan dalam psikologi khusus. Psikologi khusus ini ada berrnacam-macam, antara lain :

1) Psikologi Perkembangan,

yaitu psikologi yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua, yang mencakup :

  1. psikologi anak (mencakup masa bayi)
  2. psikologi puber dan adolesensi (psikologi pemuda)
  3. psikologi orang dewasa
  4. psikologi orang-tua.

2).  Psikologi Sosial,

yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah-laku atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi sosial.

3). Psikologi Pendidikan,

yaitu psikologi yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pen­didikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagai­nya.

4). Psikologi Kepribadian,

yaitu psikologi yang khusus menguraikan tentang pribadi manusia, beserta tipe-tipe kepribadian manusia.

5). Psikopatologi,

yaitu psikologi yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak normal (abnormal).

6). Psikologi Kriminil,

yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal kejahatan atau kriminalitas.

7). Psikologi Perusahaan,

yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal-soal perusahaan.

8.    METODE-METODE PENYELIDIKAN DALAM PSIKOLOGI

Seperti telah dikemukakan di atas metode tertua atau metode yang pertama-tama digunakan dalam lapangan psikologi ialah spekulasi. Akan tetapi akibat perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan psi­kologi pada khususnya akhirnya metode ini ditinggalkan, dan dirintislah metode bam yang mendasarkan atas pengalaman-pengalaman atau empiri.

Penentuan sesuatu metode merupakan hal yang penting setelah penentuan objek yang akan dipelajari. Dari segi metode akan terlihat ilmiah tidaknya sesuatu penyelidikan itu. Dalam kesempatan ini akan dikemukakan metode-metode yang· digunakan dalam lapangan psikologi empiris. Ternyata dalam psikologi juga diterapkan metode-metode yang digunakan oleh ilmu-ilmu lain, tetapi sudah barang tentu disesuaikan dengan keadaan objeknya itu sendiri. Pada dasarnya metode penyelidik­an dapat dibedakan atas dua bagian yang besar, yaitu metode longitudinal dar cross-sectional.

Metode longitudinal

Metode ini merupakan metode penyelidikan yang membutuhkan waktu relatif lama untuk mencapai sesuatu hasil penyelidikan. Dengan metode ini penyelidikan dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan, malahan mungkin tahun demi tahun. Karena itu bila diIihat segi perjalanan penyelidikan ini adalah seeara vertikal. Sebagai contoh misalnya me­tode yang ditempuh di dalam penyelidikan tentang perkembangan anak. Hasil pengamatan dicatat hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Hasil tersebut dikumpulkan dan diolah kemudian ditarik kesimpulan. Sudah barang tentu dengan mengutamakan metode penyelidikan ini penyelidik membutuhkan waktu yang lama, kesabaran serta ketekunan.

b.  Metode cross-sectional

Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan yang tidak mem­butuhkan waktu yang terlalu lama di dalam mengadakan penyelidikan, Dengan metode ini dalam waktu yang relatif singkat dapat dikum­pulkan bahan yang banyak. Jadi kalau dilihat jalannya penyelidikan secara horisontal. Sebagai contoh penyelidikan dengan menggunakan kuesioner adalah merupakan penyelidikan yang bersifat cross-seeti­cznal. Sudah barang tentu penyelidikan ini dapat berlangsung secara cepat, tetapi pada umumnya kurang mendalam. Karena itu untuk mengatasi kekurangan di satu pihak dan mengambil keunggulannya di lain pihak, sering kedua metode ini digabungkan.

Di samping metode tersebut di atas dalam penyelidikan psikologi digunakan pula metode eksperimental dan non-eksperimental. Dengan metode eksperimental penyelidik dengan sengaja menimbulkan keadaan yang ingin diselidiki, dan hal ini berbeda dengan yang non-eksperimen­tal. Dalam penyelidikan yang non-eksperimental penyelidik mencari atau menunggu sampai dijumpai keadaan atau situasi yang ingin di­selidiki,jadi mencari situasi yang ada dalam keadaan wajar (natural).

Untuk lebih terperinci akan dikemukakan metode-metode yang digunakan dalam lapangan psikologi sebagai berikut :

1 ). Metode Introspeksi

Arti kata introspeksi ialah melihat ke dalam (intra = ke dalam dan speksi dari spektare = melihat). Metode ini merupakan suatu metode penyelidikan dengan melihat peristiwa-peristiwa kejiwaan ke dalam dirinya sendiri. Metode intros­peksi ini dapat eksperimental dan dapat pula non-eksperimental. Sudah barang tentu penyelidikan ini dijalankan dengan penuh ke­sadaran dan secara sistematik menurut norma-norma penyelidikan ilmiah. Tetapi oleh karena dalam penyelidikan ini yang menjadi objek adalah dirinya sendiri, maka metode ini mengandung kelemahan­-kelemahan. Kelemahan pokok yang sering dikemukakan terhadap metode ini ialah bahwa metode ini bersifat subjektif, karena orang sering tidak jujur dalam mengadakan penilaian terhadap dirinya sen­diri, apalagi mengenai hal-hal yang tidak baik. Karena itu dengan metode ini sukar untuk mencapai segi objektivitas, padahal segi objektivitas dituntut oleh ilmu pengetahuan.

Sekalipun metode introspeksi merupakan metode yang mengan­dung kelemahan, tetapi metode ini sangat besar artinya dalam lapangan psikologi. Banyak peristiwa kejiwaan dapat dimengerti yang didasarkan atas keadaan dirinya sendiri, dan juga banyak bat yang dapat dicapai dengan metode introspeksi. Karenanya sekalipun metode introspeksi mempunyai kelemahan, tetapi pada umumnya masih dipertahankan di samping mencari jalan untuk mengatasi segi subjektivitas dari metode ini. Karena itu kemudian timbul metode lain yang menggabungkan metode introspeksi dengan metode eksperimen yaitu yang dikenal dengan metode introspeksi eksperimental.

2). Metode lntrospeksi Eksperimental

Seperti telah dikemukakan di atas metode ini merupakan peng­gabungan metode introspeksi dan eksperimen. Dengan jalan eksperi­men, inaka sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat di­atasi. Pada metode introspeksi murni banya diri penyelidik yang men­jadi objek. Tetapi pada introspeksi eksperimental jumlah subjek ba­nyak, yaitu orang-ora-ng yang dieksperimentasi itu. Dengan luasnya atau banyaknya silbjek penyelidikan hasilnya akan lebih bersifat objektif.

3). Metode Ekstrospeksi

Arti kata ekstrospeksi ialah melihat keluar (extro = keluar, speksi dari spektare = melihat). Metode ini dimaksudkan urituk meng­atasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi. Pada metode ekstrospeksi subyek penyelidikan bukan dirinya sendiri tetapi orang lain. Dengan demikian diharapkan adanya sifat yang objektif dalam penyelidikan itu.

Namun metode ekstrospeksi sebenarnya juga berdasarkan atas metode introspeksi. Orang akan dapat mengatakan atau menyimpulkan yang terjadi pada orang lain, juga berdasarkan atas keadaan dirinya sendiri. Orang dapat mengatakan seseorang dalam keadaan susah, dalam keada­an gembira, tergesa-gesa dan sebagainya oleh karena ia sendiri bila dalam keadaan yang demikian mengalami hal-hal yang demikian itu. Dengan demikian kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi sedikit banyak juga akan terdapat pada metode ekstrospeksi.

4). Metode Kuesioner

Kuesioner atau sering pula disebut angket merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus di­jawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subjek dari penyelidik­an tersebut. Dengan angket orang akan dapat rnemperoleh fakta atau­pun opini (opinions). Pertanyaan dalam angket bergantung kepada maksud serta tujuan yang ingin dicapai. Hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap materi serta bentuk pertanyaan angket itu.

Pada garis besarnya angket terdiri dari dua bagian yang besar, yaitu :

  1. bagian yang mengandung data identitas.
  2. bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin mem­peroleh jawabannya.

Pertanyaan itu ada beberapa macam bentuk atau jenis yang sekaligus memberikan bentuk atau jenis angket, yaitu :

a)      pertanyaan yang tertutup (closed questions), yaitu bentuk pertanya­an di mana orang yang dikenai angket (responden) tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan dalam angket tersebut. Jadi jawabannya telah terikat, responden tidak dapat memberikan jawaban seluas-luasnya, yang mungkin dikehendaki oleh responden yang bersangkutan. Bentuk angket yang mengandung pertanyaan­pertanyaan yang demikian coraknya disebut angket yang tertutup (closed questionnaire). Biasanya kalau persoalannya telah jelas dipakai angket bentuk ini.

b)      pertanyaan yang terbuka (open questions), yaitu bentuk pertanyaan di mana responden masih diberikan kesempatan seluas-Iuasnya untuk memberikan jawaban. Angket yang mengandung pertanyaan semacam ini disebut angket terbuka (open questionnaire). Pada umumnya bila akan mendapatkan opini dipakai angket bentuk ini.

c)      pertanyaan yang terbuka dan tertutup, yaitu merupakan campuran dari kedua macam pertanyaan tersebut di atas. Angket yang me­ngandung pertanyaan-pertanyaan tersebut disebut angket terbuka ­tertutup (open and closed questionnaire).

Jika angket dilihat dari cara orang memberikan informasi, angket dapat dibedakan dua jenis, yaitu angket langsung dan angket tidak langsung.

a) Angket langsung.

Angket langsung yaitu angket yang diberikan kepada subjek yang dikenai, tanpa menggunakan perantara. Jadi penyelidik langsung mendapatkan bahan dari sumber pertama (first resource).

b) Angket tidak langsung.

Angket tidak langsung yaitu angket yang menggunakan perantara dalam menjawab. Jawaban-jawaban tidak langsung didapatkan dari sumber pertama, tetapi melalui perantara. Pada angket tidak lang­sung angket tidak diberikan langsung kepada subyek penyelidikan, tetapi diberikan kepada orang yang digunakan sebagai perantara.

Keuntungan metode angket antara lain :

a)      Metode angket merupakan metode yang praktis, dari jarak jauh metode ini dapat digunakan. Penyelidik tidak perlu langsung datang di tempat penyelidikan.

b)      Dalam waktu yang singkat dapat dikumpulkan data yang relatif banyak. Di samping itu tenaga yang digunakan sedikit, sehingga dari segi ini merupakan metode yang hemat.

c)      Orang dapat menjawab leluasa, sehingga tidak dipengaruhi oleh orang-orang lain. Orang akan lebih terbuka dalam menjawab per­tanyaan-pertanyaan.

Tetapi di samping keuntungan-keuntungan tersebut di atas, ang­ket juga mempunyai segi-segi kelemahan, antara lain :

a)      Oleh karena dengan angket penyelidik mungkin tidak dapat lang­sung berhadapan muka dengan yang diselidiki, maka bila ada hal-hal yang kurang jelas, keterangan lebih lanjut sulit dapat diperoleh.

b)      Dalam angket pertanyaan-pertanyaan telah disusun demikian sehingga pertanyaan-pertanyaan tidak dapat diubah disesuaikan dengan situasinya.

c)      Biasanya angket yang telah dikeluarkan tidak semua dapat kembali. Hal ini harus diperhitungkan bila mengadakan penyelidikan menggunakan angket.

d)     Kesalahan dalam pelaksanaan (misalnya sugestif), kurang terangnya pertanyaan-pertanyaan, menyebabkan kurang validnya bahan diperoleh.

5). Metode Interviu

Interviu merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Kalau pada angket pertanyaan-pertanyaan di­berikan secara tertulis, maka pada interviu pertanyaan-pertanyaan diberikan secara lisan. Karena itu antara interviu dan angket terdapat hal-hal yang sama di samping adanya perbedaan-perbedaan. Baik angket maupun interviu kedua-duanya menggunakan pertanyaan-pertanyaan, tetapi berbeda dalam penyajiannya. Kalau kedua metode itu diban­dingkan maka pada interviu terdapat keuntungan – keuntungan di samping kelemahan-kelemahan.

Keuntungan-keuntungannya antara lain ialah :

a)      Pada interviu hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas, sehingga orang dapat mengerti apa yang dimaksudkan. Keadaan ini tidak terdapat pada angket.

b)      Pada inierviu penginterviu dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterviu. Pada angket keadaan ini tidak mungkin.

c)      Dalam interviu adanya hubungan yang langsung (face to face) karena itu diharapkan dapat menimbuIkan suasana hubungan yang baik, dan ini akan memberikan bantuan dalam mendapatkan bahan- bahan.

Sedangkan kelemahan-kelemahannya antara lain :

a)      Penyelidikan dengan interviu kurang hemat, baik dalam soal waktu maupun tenaga, sebab dengan interviu membutuhkan waktu yang lama.

b)      Pada interviu dibutuhkan keahlian, dan untuk memenuhi ini di­butuhkan waktu untuk mendapatkan didikan atau Iatihan yang khusus.

c)      Pada interviu bila telah ada prasangka (prejudice) maka ini akan mempengaruhi interviu, sehingga hasilnya tidak objektif.

6). Metode Biografi

Metode ini merupakan tulisan tentang kehidupan seseorang yang merupakan riwayat hidup. Dalam biografi orang menguraikan tentang keadaan, sikap-sikap ataupun sifat-sifat lain mengenai orang yang ber­sangkutan. Oleh karena itu biografi juga dapat merupakan sumber penyelidikan dalam Iapangan psiko1ogi. Misalnya biografi ibu Kartini, Mahatma Gandhi, Ki Hadjar Dewantara dan sebagainya. Metode ini di samping mempunyai keuntungan juga mempunyai kelemahan, yaitu bahwa metode ini kadang-kadang bersifat subjektif, dalam arti me­nurut pandangan yang membuat biografi itu. Misalnya bila orang yang membuat itu sepaham, maka sudah barang tentu orang dalam mem­buat biografi akan dipengaruhi oleh sudut pandangannya, lebih-lebih dalam pembuatan otobiografi (biografi diri sendiri).

7). Metode Analisis Karya

lni merupakan suatu metode penyelidikan dengan mengadakan analisis dari hasil karya. Misalnya antara lain tentang gambar-gambar, karangan-karangan yang telah dibuat, karya-karya ini merupakan pen­cetusan dari keadaan jiwa seseorang. Dalam hal ini termasuk juga buku harian seseorang.

8). Metode Klinis

Metode ini mula-mula timbul dalam lapangan klinik untuk mem­pelajari keadaan orang-orang yang jiwanya menyimpang (abnormal). Pada umumnya metode ini digunakan oleh para ahli psikologi dalam. Kelernahannya metode ini seakan-akan memberikan kesan bahwa sub­jeknya orang-orang yang jiwanya tidak normal, hingga hasil yang dicapai kurang menggambarkan keadaan jiwa pada umumnya.

9). Metode Testing

Metode ini merupakan metode penyelidikan yang rnenggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah di­standardisasikan. Dilihat dari caranya orang mengerjakan test seakan­akan seperti eksperimen, namun kedua metode ini berbeda. Pada eks­perimen, orang dengan sengaja mengetrapkan treatment atau perlaku­an dan ingin mengetahui efek dari treatment tersebut. Pada test orang ingin rnengetahui kemampuan-kemampuan ataupun sifat-sifat lain dari testee. Pada test yang penting adalah telah adanya standardisasi di mana ini tidak terdapat dalam eksperimen.

Metode test mulai terkenal setelah hasil kerja dari Binet. Pada tahun 1904 Binet mendapatkan tugas dari pemerintah Perancis (c.q. yang mengurusi bidang pendidikan dan pengajaran) untuk mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak yang mengalami kelambatan dalam pelajaran bila dibandingkan dengan teman-temannya yang sebaya. Berdasarkan atas hasil penyelidikan Binet anak-anak yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti anak-anak yang lain, ternyata mereka itu kurang normal. Penyelidikan kemudian dilanjutkan bersama-sama de­ngan Simon, hingga akhirnya hasil penyelidikan itu terkenal dengan test-inteligensi Binet-Simon. Sumbangan utama dari Binet ialah dalam hal merintis dan menentukan standar-standar pertanyaan, yaitu per­tanyaan yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan tingkat umur masing-masing. Standar ini berdasarkan atas keadaan anak yang normal, sehingga dengan demikian bila pertanyaan itu diajukan kepada anak dengan umur tertentu maka pertanyaan itu akan dapat dijawab oleh anak-anak yang normal.

Test Binet kemudian disempurnakan lebih lanjut oleh ahli-ahli antara lain oleh Stem, Terman Merril dan sebagainya. Salah satu revisi yang terkenal ialah dari Terman untuk dipakai di Amerika. Karena Terman adalah mahaguru di Stanford University, maka revisi. nya terkenal dengan Stanford Revision, dan sering disebut test inteligensi Stanford-Binet.

Di samping test Binet-Simon masih banyak lagi test-test yang lain, misalnya test Rorschach, test Kraeplin, test T.A.T. dan sebagai. nya. Dengan demikian ada macam-macam test yang kesemuanya dapat digunakan untuk mengadakan penyelidikan dalam Iapangan psiko­logi.

Test dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis, yaitu :

a)      Menurut banyaknya orang yang di-test, test dapat dibedakan atas :

1)      test perorangan atau juga disebut test individual, yaitu test yang diberikan secara perorangan. Misalnya test Binet, test Rorschach, test Wechsler.

2)      test kelompok, yaitu merupakan test yang. diberikan secara ke­lompok. Misalnya Army Alpha dan Army Betha test, Army General Classification test (AGeT), test SPM.

b)      Berdasarkan atas peristiwa-peristiwa kejiwaan yang diselidiki, maka test dapat dibedakan atas :

–     test pengamatan

–     test perhatian

–     test ingatan

–     test inteligensi, dan sebagainya.

c)      Berdasarkan atas caranya orang menjawab atau mengerjakan, maka test dapat dibedakan :

1)      test bahasa (verbal test), yaitu test di mana testee (orang yang ditest) dalam mengerjakan test menggunakan bahasa. Misalnya test Binet, test Rorschach, test T.A.T.

2)      test peraga (performance test), yaitu test di mana testee dalam mengerjakan test tidak perlu menggunakan bahasa, cukup dengan perbuatan-petbuatan, misalnya menyusun, menggambar dan se­bagainya. Misalnya test dari William Healy, test SPM, test Goodenough.

Di samping itu bila test digunakan untuk menyelidiki tentang bakat seseorang, test itu disebut aptitude test atau test-bakat. Kalau test digunakan untuk mengetahui tentang kecepatan orang menger­jakan sesuatu, test itudisebut speed test atau test kecepatan. Sedang­kan kalau test digunakan untuk mengetahui power atau kemampuan seseorang, test itu disebut: power-test. Kalau test digunakan untuk mengetahui sampai di mana kemampuan individu di dalam meng­adakan performance terhadap sesuatu training atau sesuatu yang telah pernah djterimanya. maka test ini merupakan achievement test.

Test sebagai metode penyelidikan di samping mempunyai ke­untungan juga terdapat kelemahan. Keuntungan yang dapat diperoleh ialah dengan menggunakan test orang dapat mengetahui gambaran atau keadaan dari orang yang ditest, sudah memberikan ancer-ancer yang sedikit banyak telah berguna dalam menentukan langkah-langkah lebih lanjut.

Sedangkan keberatan yang sering dikemukakan ialah bahwa test terikat kepada kebudayaan dari mana asal test itu. Berhubung dengan kelemahan ini maka orang kemudian mencari atau menciptakan test yang sedikit banyak ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan kelemahan ini yaitu dengan menciptakan test yang bebas dari ke­budayaan. Test performance merupakan usaha untuk mengatasi terikat­nya test terhadap unsur kebudayaan. Karena itu performance test diharapkan merupakan test yang lebih bebas dari kebudayaan bila dibandingkan dengan test-verbal.

10). Metode Statistik

Pada umumnya metode statistik digunakan untuk mengadakan penganalisaan terhadap materi atau data yang telah dikumpulkan dalam suatu penyelidikan. Untuk memberikan gambaran yang dimaksud dengan statistik baiklah disajikan apa yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi (1979 : 1) sebagai berikut :

“Kata STATISTIK telah digunakan untuk membatasi cara-cara ilmiah untuk mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menya­jikan data penyelidikan. Lebih lanjut statistik merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpul­an yang teliti dan keputusan~eputusan yang logik dati peng­olahan data tersebut (BATASAN UMUM).

Khusus untuk keperluan-keperluan research, seperti yang telah beberapa kali disinggung di depan, fungsi dan peranan statistik digambarkan oleh Guilford sebagai berikut :

  1. Statistik memungkinkan pencatatan secara paling eksak data penyelidikan.
  2. Statistik memaksa penyelidik menganut tata-fikir dan tata­kerja yang definit dan eksak.
  3. Statistik menyediakan cara-cara meringkas data ke dalam bentuk yang lebih banyak artinya dan lebih gampang me­ngerjakannya.
  4. Statistik memberi dasar-dasar untuk menarik kongklusi-kong­klusi melalui proses-proses yang mengikuti tata yang dapat diterirna oleh ilmu pengetahuan.
  5. Statistik memberi landasan untuk meramalkan secara ilmiah tentang bagaimana sesuatu gejala akan terjadi dalam kondisi­-kondisi yang telah diketahui.
  6. Statistik memungkinkan penyelidik menganalisa, menguraikan sebab-akibat yang kompleks dan rumit, yang tanpa statistik akan merupakan peristiwa yang membingungkan, kejadian yang tak teruraikan.

BAB II

MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA

1.   MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan-peru­bahan dalam segi fisiologis maupun perubahan-perubahan daJam segi psikalagis. Bagaimana manusia berkembang dibicarakan secara mendalam dalam psikologi perkembangan sebagai salah satu psikologi khusus yang membicarakan tentang masalah perkembangan manusia. Dalam kesempat­an ini akan diketengahkan mengenai faktor-faktor yang akan menentukan dalam perkembangan manusia. Mengenai faktor·faktor yang menentukan dalam perkembangan manusia ternyata terdapat bermacam-macam pen­dapat dari para ahli, sehingga pendapat-pendapat itu menimbulkan ber­macam-macam teori mengenai perkembangan manusia. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lain, bahkan ada yang bertentangan satu dengan yang lain. Teori-teori perkembangan tersebut ialah :

a.   Teori Nativisme

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan di­tentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktar keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahir­kan. Menurut teori ini sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-­sifat tertentu, dan sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori ini dikemukakan oleh Schopen hauer (Bigot, Kohstamm, Polland, 1950).

Teori ini menirnbulkan pandangan bahwa seakan-akan manusia telah ditentukan oleh sifat-sifat sebelumnya, yang tidak dapat diubah, sehingga individu akan sangat tergantung kepada sifat-sifat yang diturunkan oleh orang tuanya. Bila orang tuanya baik seseorang akan menjadi baik, sebalik­ny abila orang tuanya jahat seseorang akan menjadi jahat; sifat baik atau jahat itu tidak dapat diubah oleh kekuatan-kekuatan lain. Teori ini me­nimbulkan konsekuensi pandangan bahwa manusia bila dilahirkah baik akan tetap baik, sebaliknya bila manusia dilahirkan jahat akan tetap men­jadi jahat, yang tidak dapat diubah oleh pendidikan dan lingkungan.

Karena itu teori ini dalam pendidikan menimbulkan pandangan yang pesimistis, yang memandang pendidikan sebagai suatu usaha yang tidak berdaya menghadapi perkembangan manusia. Teori ini lebih jauh dapat menimbulkan suatu pendapat bahwa untuk menciptakan masyarakat yang baik, langkah yang dapat diambil ialah mengadakan seleksi terhadap anggota masyarakat. Anggota masyarakat yang tidak baik tidak diberi kesempatan untuk berkembang, karena ini akan memberikan. keturunan yang tidak baik pula. Tetapi ternyata teori ini tidak dapat diterima oleh ahli-ahli lain, ini terbukti dengan adanya teori-teri lain diantaranya seperti yang dikemukakan oleh William Stern.

b. Teori Empirisme

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Dalam pengertian pengalaman termasuk juga pendidikan yang diterima oleh individu yangbersangkutan. Menurut teori ini individu yang dilahirkan itu sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisannya. Akan menjadi apakah individu itu kemudian, tergantung kepada apa yang akan dituliskan di atasnya. Karena itu peranan para pendidik dalam hal ini sangat besar, pendidiklah yang akan menentukan keadaan individu itu di kemudian hari. Karena itu aliran atau teori ini dalam lapangan pendidikan me­nimbulkan pandangan yang optimistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membentuk pribadi individu. Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke, juga sering dikenal dengan teori tabularasa, yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan.

Bila dilihat kedua teori tersebut di atas merupakan teori-teori yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Teori nativisme sangat menitik beratkan pada segi keturunan atau pembawaan, sebaliknya teori empirisme sangat menitik beratkan pada empiri, pada lingkungan, kedua-duanya merupakan teori yang sangat menyebelah. Berhubung dengan hal tersebut adanya usaha untuk menggabungkan kedua teori ini yaitu merupakan teori konvergensi.

c. Teori Konvergensi

Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari kedua teodri tersebut di atas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh William Stern. Menurut W. Stern baik pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan individu. Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh faktor yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan (termasuk penga­laman dan pendidikan) yang merupakan faktor eksogen. Penyelidikan dari W. Stern memberikan bukti tentang kebenaran dari teorinya. W. Stern mcngadakan penyelidikan dengan anak-anak kembar di Hamburg. Dilihat dari segi faktor endogen atau faktor genetik anak yang kembar mem­punyai sifat-sifat keturunan yang dapat dikatakan sama. Anak-anak ter­sebut dipisahkan dari pasangannya dan ditempatkan .pada pengaruh lingkungan yang berbeda satu dengan yang lain. Pemisahan itu segera dilaksanakan setelah kelahiran. Ternyata akhirnya anak-anak itu mem­punyai sifat-sifat yang berbeda satu dengan yang lain, sekalipun secara keturunan mereka dapat dikatakan relatif mempunyai kesamaan. Perbedaan sifat yang ada pada anak itu disebabkan karena pcngaruh lingkungan di mana anak tersebut berada. Dengan keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan tidak menentukan secara mutlak, pembawaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang. Kemudian penyelidikan semacam itu banyak dilakukan di tempat-tempat lain diantaranya di Chicago dan di Texas.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa perkembangan indi­vidu itu akan ditentukan baik oleh faktor pembawaan (dasar) atau faktor endogen, maupun oleh faktor keadaan atau lingkungan atau eksogen.

2.   FAKTOR ENDOGEN DAN FAKTOR EKSOGEN

Faktor endogen ialah faktor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga kelahiran. Jadi faktor endogen merupakan faktor keturunan atau faktor pembawaan. O1eh karena individu terjadi dari bertemunya ovum dari ibu dan sperma dari ayah, maka tidaklah mengherankan kalau faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti orang tuanya.

Tetapi seperti telah dikemukakan di muka faktor endogen dalam perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh faktor eksogen. Apa saja faktor-faktor endogen ini? Kenyataan rnenunjukkan bahwa sewaktu indi­vidu itu dilahirkan telah adanya sifat-sifat yang tertentu terutama sifat­-sifat yang berhubungan dengan faktor kejasmanian, misalnya bagaimana kulitnya putih, hitam atau coklat; bagaimana keadaan rambutnya hitam, pirang dan sebagainya. Sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat yang mereka dapatkan karena faktor keturunan, seperti yang dikena1 dengan hukum Mendel. Faktor pembawaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya tidak dapat diubah. Bagaimana besar keinginan orang untuk mempunyai warna kulit yang putih bersih, hal ini tidak mungkin kalau karena faktor keturunan kulitnya berwarna coklat, demikian pula halnya dengan yang lain-lain.

Di samping itu individu juga mempunyai sifat-sifat pembawaan psikologis yang erat hubungannya dengan keadaan jasmani yaitu tempe­ramen. Temperamen merupakan sifat-sifat pembawaan yang erat hubung­annya dengan struktur kejasmanian seseorang, yaitu yang berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologis seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-­cairan lain, yang terdapat dalam diri manusia.

Di samping individu mempunyai pembawaan-pembawaan yang ber­hubungan dengan sifat-sifat kejasmanian dan temperamen, maka individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan yang berupa bakat (aptitude). Bakat bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang dibawa individu sewaktu dilahirkan, melainkan hanya merupakan salah satu faktor yang dibawa sewaktu dilahirkan. Bakat merupakan potensi-potensi yang berisi kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang ke sesuatu arah. Bakat bukan1ah sesuatu yang telah jadi, yang telah terbentuk pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi saja. Agar potensi ini menjadi aktualisasi dibutuhkan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut.

Faktor eksogen ialah merupakan faktor yang datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar pendidikan dan sebagainya yaitu yang sering dikemukakan dengan pengertian milieu. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu yang bersangkutan. Tidak demikian halnya dengan pen­didikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran dan dengan secara sistematis untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun yang ada pada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendidikan. Dengan demikian pendidikan itu bersifat akif, penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.

3.   HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN LINGKUNGANNYA

Telah dikemukakan dalam teori konvergensi bahwa lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu, dan teori ini pada umumnya menunjukkan kebenarannya. Lingkungan secara garis besarnya dapat dibedakan :

  1. Lingkungan fisik, yaitu lingkungan yang berupa alam, misalnya keada­an tanah, keadaan musim dan sebagainya. Lingkungan alam yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda pula kepada individu. Misalnya : daerah pegunungan akan memberikan pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang mempunyai musim dingin akan memberikan pengaruh yang berbeda dengan daerah yang penuh dengan musim panas.
  2. Lingkungan sosial, yaitu merupakan lingkungan masyarakat, di mana dalam lingkungan masyarakat ini adanya interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan masyarakatpun akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perkembangan individu.

Lingkungan sosial ini biasanya dibedakan :

I)       Lingkungan sosial primer, yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat antara anggota satu dengan anggota lain, anggota satu saling kenal mengenal dengan baik dengan anggota lain. Oleh karena diantara anggota telah ada hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang hubungannya tidak erat.

2)      Lingkungan sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial yang hubungan anggota satu dengan anggota lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lain kurang atau tidak saling kenal mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan sosial primer.

Bagaimana sikap individu terhadap lingkungan dapat dikemukakan sebagai berikut:

a)   Individu menolak atau menentang lingkungan.

Dalam keadaan ini lingkungan tidak sesuai dengan yang ada dalam diri individu. Dalam keadaan yang tidak sesuai ini individu dapat memberikan bentuk atau perubahan lingkungan seperti yang dikehen­daki oleh individu yang bersangkutan. Misalnya akibat banjir sebagian jalan terputus. Untuk mengatasi ini dibuat tanggul untuk melawan pengaruh dari lingkungan itu, sehingga orang tidak. menerima begitu saja pengaruh linglrungan tetapi orang menolak atau mengatasi pe­ngaruh lingkungan demikian itu.

Dalam kehidupan bermasyarakat kadang-kadang orang tidak cocok dengan norma-norma dalam sesuatu masyarakat. Orang dapat berusaha untuk dapat mengubah norma yang tidak baik itu menjadi norma yang baik. Jadi individu secara aktif memberikan pengaruh terhadap lingkungannya.

b)      Individu menerima lingkungan.

Dalam hal ini keadaan lingkungan sesuai atau sejalan dengan yang ada dalam diri individu. Dengan demikian individu akan menerima ling­kungan itu.

c)      Individu bersikap netral.

Dalam hal ini individu tidak menerinia tetapi juga tidak menolak. Individu dalam keadaan status quo terhadap lingkungan.

BAB III

PERISTIWA-PERISTIWA KEJIWAAN

1.   PENGANTAR

Telah dipaparkan di muka bahwa manusia merupakan makhluk yang berjiwa, dan kenyataan ini kiranya tidak ada yang membantah; dan kehidup­an kejiwaan itu direfleksikan dalam tingkah laku, aktivitas manusia. Sudah sejak dari dahulu kala para ahli telah membicarakan masalah ini, antara lain oleh Plato, Aristoteles, sebagai ahli-ahli pikir pada waktu itu yang telah membicarakan mengenai soal jiwa ini. Kalau manusia mengadakan intro­speksi kepada diri masing-masing, memang dapat dimengerti bahwa dalam dirinya, manusia merasa senang kalau melihat sesuatu yang indah, berfikir kalau menghadapi sesuatu masalah, ingin membeli sesuatu kalau membutuh­kan sesuatu barang, semua ini memberikan gambaran bahwa dalam diri manusia berlangsung kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas kejiwaan.

Mengenai kekuatan atau kemampuan jiwa manusia telah dibedakan adanya dua golongan yang besar yaitu :

  1. Kemampuan manusia menerima stimulus dati luar. Kemampuan ini ber­hubungan dengan pengenalan (kognisi).
  2. Kemampuan manusia untuk melahirkan apa yang terjadi. dalam jiwanya. Kemampuan ini berhubungan dengan motif, kemauan (konasi).

Pembagian kemampuan jiwa manusia menjadi dua golongan besar ini dikenal sebagai pembagian yang dichotomi (Bigot dkk. 1950).

Namun kalau dilihat pembagian di atas itu sebenarnya masih ada satu hal yang dapat dikemukakan lagi yaitu bahwa selain manusia mempunyai kemampuan untuk menerima stimulus dari luar dan menyatakan apa yang diinginkan, manusia masih dapat melihat efek atau akibat dari stimulus yang menimbulkan state, atau keadaan yang terdapat dalam jiwa manusia itu; manusia akan merasa senang bila melihat sesuatu yang indah atau sebaliknya. Karena itu di samping adanya kognisi dan konasi masih ada proses kejiwaan manusia yang berhubungan dengan perasaan atau emosi. Tetens dan Kant (lih. Bigot dkk. 1950), kemudian memisahkan satu keadaan lagi dari konasi, yaitu yang berhubungan dengan emosi atau perasaan. Dengan demikian kemampuan jiwa dibedakan atas 3 golongan yang besar, yaitu:

  1. kognisi, yang berhubungan dengan pengenalan,
  2. emosi, yang berhubungan dengan perasaan,
  3. konasi, yang berhubungan dengan kemauan.

Pembagian kemampuan jiwa manusia menjadi tiga golongan besar ini yang sering dikenal sebagai pembagian yang triclwtornis. Walaupun kemarnpuan jiwa itu digolong-golongkan, namun haruslah selalu diingat bahwa jiwa manusia itu merupakan suatu kesatuan, suatu kebulatan atau suatu totalitas. Ini berarti bahwa bagian satu tidak terlepas sama sekali dari bagian yang lain, tetapi selalu berhubung-hubungan.

Seperti telah dipaparkan di depan bahwa manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya. Manusia akan selalu menerima rangsang atau stimulus dari lingkungannya. Namun ini tidak berarti bahwa stimulus hanya datang dari luar diri individu itu, sebab stimulus juga dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan stimulus adalah segala sesuatu yang mengenai reseptor, dan menyebabkan aktifnya organisme. Ini berarti segala sesuatu yang mengenai reseptor menyebabkan reseptor itu aktif, dan ini menyebabkan organisme itu aktif (Chaplin, 1972; Wood· worth & Marquis, 1957). Karena itu stimulus dapat datang dari dalam dan datang dari luar organisme yang bersangkutan (Chaplin, 1972). Namun demikian sebagian terbesar stimulus datang dari luar organisme.

Aktivitas kognitif adalah berkaitan dengan persepsi, ingatan, belajar, berfikir dan problem solving (Morgan clkk. 1984; Woodworth dan Marquis, 1957). Kegiatan atau proses tersebut sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme, dan organisme mengadakan respons terhadap stimulus yang mengenainya. Untuk lebih jelas akan dikemukakan masing-masing ke­kegiatan atau aktivitas itu secara rinci. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa kegiatan atau aktivitas individu itu merupakan suatu kesatuan yang bulat, bagian satu tidak terlepas dari bagian yang lain, selalu saling kait mengkait, tingkah laku organisme atau manusia merupakan keadaan yang integrated.

2.   PERSEPSI

Sejak individu dilahirkan, sejak itu pula individu secara langsung berhubungan dengan dunia luarnya. Mulai saat itu individu secara langsung menerima stimulus atau rangsang dari luar di samping dari dalam dirinya sendiri. la mulai merasa kedinginan, sakit, senang, tidak senang dan sebagainya.

Individu mengenali dunia luarnya dengan rnenggunakan alat inderanya. Bagaimana individu dapat mengenali dirinya sendiri maupun keadaan sekitar­nya, hal ini berkaitan dengan persepsi (perception). Melalui stimulus yang diterimanya, individu akan mengalami persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu merupakan proses yang berujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Namun proses itu tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan stimulus itu diterus­kan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu menyadari apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan sebagainya, individu mengalami persepsi. Karena itu proses penginderaan tidak dapat lepas dari proses persepsi, dari proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari persepsi. Proses penginderaan akan selalu terjadi setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat indera­nya, melalui reseptornya. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca, 1965; Woodworth dan Marquis, 1957).

Agar individu dapat menyadari, dapat mengadakan persepsi, adanya beberapa syarat yang perlu dipenuhi yaitu :

  1. Adanya objek yang dipersepsi.

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai alat indera (reseptor), dapat datang dari dalam, yang langsung mengenai syaraf penerima (sen­soris), yang bekerja sebagai reseptor.

Alat indera atau reseptor, yaitu merupakan alat untuk menerima stimulus.

Di samping itu harus ada pula syaraf sensoris sebagai alat untuk menerus­kan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons diperlukan syaraf motoris.

  1. Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi sesuatu diperlukan pula adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi. Tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi.

Dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengadakan persepsi ada syarat-syarat yang bersifat :

1)      fisik atau kealaman

2)      fisiologis

3)      psikologis.

Dengan demikian dapat dijelaskan terjadinya proses persepsi sebagai berikut: Objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisile). Stimulus yang di­terima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini dinamakan proses fisiologis. Kemudian terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan reseptor itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologis. Dengan demikian taraf terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indera atau reseptor. Proses ini merupakan proses terakhir dari persepsi dan merupakan pcrsepsi yang sebenarnya. Respons sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai-bagai macam bentuk.

Keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya dikenai satu sti­mulus saja, melainkan individu dikenai berbagai-bagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar. Tetapi tidak semua stimulus itu men­dapatkan respons individu.

Seperti dikemukakan di atas bahwa tidak semua stimulus akan direspons oleh individu. Respons diberikan oleh individu terhadap stimulus yang ada persesuaian atau yang menarik individu terhadap stimulus yang dipersepsi oleh individu selain tergantung pada stimulusnya juga tergantung kepada keadaan individu itu sendiri. Stimulus yang akan mendapat pemilihan dari individu tergantung kepada bermacam-macam faktor, salah satu faktor ialah perhatian dari individu, yang merupakan aspek psikologis individu dalam mengadakan persepsi.

a. PERHATIAN

Seperti telah dikemukakan di muka perhatian merupakan syarat psikologis dalam individu mengadakan persepsi, yang merupakan langkah persiapan, yaitu adanya sesediaan individu untuk mengadakan perepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. Kalau individu sedang memperhatikan sesuatu benda misalnya, ini berarti bahwa seluruh aktivitas individu dicurahkan atau dikonsentrasikan kepada benda tersebut. Tetapi di samping itu individu juga dapat memperhatikan banyak objek sekaligus dalam suatu waktu. Jadi yang dicukup bukanlah hanya satu objek, tetapi sekumpulan objek-objek. Sudah barang tentu tidak semua objek tersebut dapat diperhatikan secara sama. Jadi perhatian merupakan penyeleksian terhadap stimulus. Attention may be defined either as the selective characteristic of the mental life. (Drever, 1960 : 22)

Dengan demikian maka apa yang diperhatikan akan betul-betul disasari oleh individu, dan akan betul-betul jelas bagi individu yang bersangkutan. Karena itu perhatian dan kesadaran akan mempunyai korelasi yang positif. Makin diperhatikan sesuatu objek akan makin disadari objek itu dan makin jelas bagi individu. Introspective defined, attention is clearness in conseciousness (Harriman, 1958 : 86).

Berdasarkan atas penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa perhatian itu ada bermacam-macam, sesuai dari segi mana perhatian itu akan ditinjau.

Ditinjau dari segi timbulnya perhatian, perhatian dapat dibedakan atas perhatian spontan dan perhatian tidak spontan.

1)      Perhatian spontan, yaitu perhatian yang timbul dengan sendirinya, timbul dengan secara spontan. Perhatian ini erat hubungannya dengan minat individu. Bila individu telah mempunyai minat terhadap sesuatu objek, maka terhadap objek itu biasanya timbul perhatian yang spontan, secara otomatis perhatian itu akan timbul. Misalnya bila seseorang mempunyai minat terhadap musik, maka secara spontan perhatiannya akan tertuju kepada musik yang didengarnya.

2)      Perhatian tidak spontan, yaitu perhatian yang ditimbulkan dengan sengaja, karena itu harus ada kemauan untuk menimbulkannya. Seorang murid mau tidak mau harus memperhatikan pelajaran sejarah misalnya, sekalipun ia tidak menyenanginya, karena ia harus mempelajarinya. Karena itu untuk dapat mengikuti pelajaran tersebut, dengan sengaja harus ditimbulkan perhatiannya.

Dilihat dari banyaknya objek yang dapat dicakup oleh perhatian pada suatu waktu, perhatian dapat dibedakan, perhatian yang sempit dan perhatian yang luas.

1)      Perhatian yang sempit, yaitu perhatian individu pada suatu waktu hanya dapat memperhatikan sedikit objek.

2)      Perhatian yang luas, yaitu individu pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak objek pada suatu saat sekaligus. Misalnya orang melihat pasar malam, ada orang yang dapat menangkap banyak objek sekaligus, tetapi sebaliknya ada orang yang tidak dapat berbuat demikian.

Sehubungan dengan ini perhatian dapat juga dibedakan atas perhatian yang terpusat dan perhatian yang terbagi-bagi.

1)      Perhatian yang terpusat, yaitu individu pada suatu waktu hanya dapat memusatkan perhatiannya pada sesuatu objek. Pada umumnya orang yang mempunyai perhatian yang sempit sejalan dengan perhatian yang terpusat.

2)      Perhatian yang terbagi-bagi, yaitu individu pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak hal atau objek. Pada umumnya orang yang mempunyai perhatian yang luas sejalan dengna yang terbagi ini.

Dilihat dari fluktuasi perhatian, maka perhatian dapat dibedakan perhatian yang statis dan perhatian yang dinamis.

1)      Perhatian yang statis, yaitu inidividu dalam waktu yang tertentu dapat dengan statis atau tetap perhatiannya tertuju kepada objek tertentu. Orang yang mempunyai perhatian semacam ini sukar memindahkan perhatiannya dari satu objekk ke objek lain.

2)      Perhatian yang dinamis, yaitu individu dapat memindahkan perhatiannya secara lincah dari satu objek ke objek lain. Inidividu yang mempunyai perhatian semacam ini akan mudah memindahkan perhatiannya dari satu objek ke objek lain.

b. STIMULUS

Seperti telah dikemukakan di atas, individu pada suatu waktu menerima bermacam-macam stimulus. Agar stimulus dapat disadari oleh individu, stimulus harus cukup kuatnya. Bila stimulus tidak cukup kuat bagaimanapun besarnya perhatian dari individu, stimulus tidak akan dapat dipersepsi atau disadari oleh individu yang bersangkutan. Dengan demikian ada batas kekuatan minimal dari stimulus, agar stimulus dapat menimbulkan kesadaran pada individu. Batas minimal kekuatan stimulus yang dapat menimbulkan sedaran pada individu, disebut ambang stimulus (Townsed, 1953), yaitu kekuatan stimulus minimal yang dapat disadari oleh individu. Kurang dari kekuatan tersebut individu tidak akan dapat menyadari stimulus itu.

Oleh karena individu mengadakan seleksi terhadap stimulus yang me­ngenainya, maka problem psikologis yang timbul ialah stimulus yang bagai­manakah yang lebih menguntungkan untuk dapat menarik perhatian individu, sehingga adanya kemungkinan dipersepsinya. Hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut :

1). Intensitas atau Kekuatan Stimulus

Seperti telah dikemukakan di muka, agar stimulus dapat dipersepsi oleh individu stimulus tersebut harus cukup kuatnya. Dengan demikian kekuatan stimulus akan turut menentukan disadari atau tidaknya stimulus itu. Sehu­bungan dengan kekuatan stimulus dapat dikemukakan bahwa pada umumnya stimulus yang kuat lebih menguntungkan dalam kemungkinannya untuk direspons bila dibandingkan dengan stimulus yang lemah.

2). Ukuran Stimulus

Pada umumnya ukuran stimulus yang besar lebih menguntungkan dalam menarik perhatian bila dibandingkan dengan ukuran yang kecil. Suatu headline yang besar dari surat kabar akan lcbih menarik perhatian bila dibandingkan dengan huruf-huruf yang kecil lainnya. Suatu iklan yang besar pada umumnya lebih menarik perhatian bila dibandingkan dengan yalng lebih kecil.

3). Perubahan Stimulus                                                                     .

Seperti telah dikemukakan di atas stimulus yang monoton kurang menguntungkan, dan karena itu perlu adanya perubahan dari stimulus itu untuk dapat lebih menarik perhatian. Orang tidak memperhatikan lagi bunyi jam yang tergantung pada tembak yang sudah tiap hari didengar , tetapi jika pada suatu hari jam tersebut tidak berbunyi, jadi ada perubahan stimulus, maka justru pada waktu itu tertariklah perhatian orang kepada perubahan stimulus tersebut, dan timbul pertanyaan mengapa jam itu mati.

4). Ulangan dari Stimulus

Stimulus yang diulangi pada dasarnya lebih menarik perhatian daripada yang tidak diulangi. Bunyi kentongan yang bertalu-talu akan lebih menarik perhatian bila dibandingkan kalau kentongan itu hanya berbunyi satu kali saja. Orang yang minta tolong dan diucapkan berulang kali akan lebih menarik perhatian bila dibandingkan hanya diucapkan sekali saja.

5).  Pertentangan atau Kontras dati Simulus

Stimulus yang bertentangan atau kontras dengan sekitarnya akan lebih menarik perhatian orang. Hal ini disebabkan karena stimulus itu lain dari keadaan pada umumnya. Kalau semua anak memakai pakaian putih-putih dan ada seorang anak yang memakai pakaian merah, maka keadaan yang kontras ini akan menarik perhatian orang, sehingga perhatian orang akan tertuju kepada anak yang berpakaian merah tersebut. Suatu iklan yang dicetak terbalik akan lebih menarik perhatian bila dibandingkan kalau iklan tersebut dicetak biasa saja.

Hal-hal tersebut di atas mempakan hal-hal yang penting, lebih-lebih dalam dunia perdagangan, yang selalu berusaha bagaimanakah agar dagangannya lebih dapat menarik perhatian orang. Demikianlah juga dalam dunia pendidikan, selalu mencari cara bagaimanakah supaya yang diberikan itu dapat lebih menarik perhatian dari yang menerimanya.

c. FAKTOR INDIVIDU

Jika stimulus merupakan faktor eksternal dalam proses pengamatan, maka faktor individu merupakan faktor internal. Menghadapi stimulus dari iuar itu, individu bersikap selektif untuk menentukan stimulus mana yang akan diperhatikan sehingga menimbulkan kesadaran pada individu yang hersangkutan. Keadaan individu pada suatu waktu ditentukan oleh :

1)      Sifat struktural dari individu, yaitu keadaan individu yang lebih bersifat permanen. Ada individu yang suka memperhatikan sesuatu hal sekalipun hal itu kecil atau tidak berarti, tetapi sebaliknya ada individu yang mempunyai sifat acuh tak acuh terhadap keadaan yang ada di sekitarnya.

2)      Sitat temporer dari individu, yaitu keadaan individu pada sesuatu waktu. Orang yang sedang dalam keadaan marah misalnya akan lebih emosional daripada kalau dalam keadaan biasa, sehingga individu akan mudah sckali memberikan reaksi terhadap stimulus yang mengenainya. Keadaan yang temporer ini erat sekali hubungannya dengan stemming dari individu.

3)      Aktivitas yang sedang berjalan  pada individu. Hal ini juga akan turut menentukan apakah sesuatu itu akan diperhatikan atau tidak. Sesuatu hal atau benda pada suatu waktu tidak menarik perhatian seseorang tetapi pada waktu yang lain justru sebaliknya, oleh karena pada waktu itu aktivitas jiwanya sedang berhubungan dengan benda tersebut.

d. PERSEPSI MELALUI INDERA PENGLIHATAN

Telah dipaparkan di muka, untuk mempersepsi sesuatu, individu harus mempunyai perhatian kepada objek yang bersangkutan. Bila individu telah memperhatikan, selanjutnya individu menyadari sesuatu yang diperhatikan itu, atau dengan kata lain individu mempersepsi apa yang diterima dengan alat inderanya. Individu dapat menyadari apa yang dilihatnya, didengarnya, dirabanya dan sebagainya. Alat indera merupakan alat utama dalam individu mengadakan persepsi. Seseorang dapat melihat dengan matanya tetapi mata bukanlah satu-satunya bagian hingga individu dapat mempersepsi apa yang dilihatnya, mata hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian yang menerima stimulus, dan stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat menyadari apa yang dilihat. Secara alur dapat dikemukakan bahwa proses persepsi berlangsung sebagai berikut :

1)      Stimulus mengenai alat indera, ini merupakan proses yang bersifat kealaman (fisik).

2)      Stimulus kemudian dilangsungkan ke otak oleh syaraf sensoris, proses ini merupakan proses fisiologis.

3)      Di otak sebagai pusat susunan urat syaraf terjadilah proses yang akhirnya individu dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang diterima melalui alat indera. Proses yang terjadi dalam otak ini merupakan proses psikologis.

Bila seseorang melihat sesuatu objek maka stimulus yang mengenai mata bukanlah objeknya secara langsung, tetapi sinar yang dipantulkan oleh obyek tersebut yang bekerja sebagai stimulus yang mengenai mata. S:inar yang mengenai mata mempuriyai suat gelombang, ada yang ber­gelombang pendek dan ada juga yang bergelombang panjang. Di samping itu sinar juga mempunyai suatu kekuatan atau intensitas gelombang yang ber­macam-macam. Perbedaan dalam soal intensitas akan membawa perbedaan dalam soal terang tidaknya sinar yang diterima. Perbedaan panjang pendeknlya gelombang akan membawa perbedaan dalam warna yang dilihat. Bila seseorang melihat suatu benda, maka dari benda itu dapat dilihat bentuknya, jaraknya dan warnanya.

Dari ketiga hal ini soal warna sangat menarik dalam lapangan psikologi, sehingga dalam psikologi dikenal adanya test warna, yang menghubungkan soal warna dengan keadaan psikologis dari seseorang.

b). WARNA ELEMENTER DAN WARNA PRIMER

Dalam keadaan sehari-hari orang dapat melihat bermacam-macam warna, masing-masing mempunyai suatu sendiri-sendiri; masing-masing warna merupakan warna elementer. Sekalipun sesuatu warna itu merupakan cam­puran dari bermacam-macam warna misalnya, tetapi warna itu sendiri rnempunyai suatu yang khas dari warna tersebut. Misalnya warna oranye merupakan campuran dari warna merah dan warna kuning, tetapi warna oranye itu sendiri mempunyai sifat dan kedudukan sendiri. Ia bukan warna merah tetapi juga bukan warna kuning. Kedua warna itu telah terjalin demikian rupa hingga menimbulkan warna oranye.

Di antara warna-warna elementer didapati warna-warna yang me­nyolok sekali, dan ini merupakan warna primer atau warna pokok. Misalnya warna merah dan kuning rnerupakan dua warna yang menonjol dan merupakan dua pool dari seri warna oranye. Makin banyak warna kuningnya oranyenya makin kekuning-kuningan, sebaliknya makin banyak warna warna oranyenya makin kemerah-merahan. Tetapi seri oranye itu dapat melampaui warna kuning dan warna merah. Oleh karena itu warna merah dan kuning merupakan warna batas dari oranye, dan merupakan warna-warna pokok atau warna primer.

Warna apa yang merupakan warna pokok belum ada kata sepakat, Menurut Hering yang kemudian terkenal dengan teori Hering terdapat warna pokok yaitu warna merah, hijau, kuning, biru, putih dan hitam (lih Collins & Drever , 1952). Dari enam warna ini menjadi tiga pasang yaitu pasangan merah – hijau, biru – kuning, dan putih – hitam (Iih. Collins & Drever, 1952; Harriman, 1958). Warna-warna lain merupakan dari warna pokok tersebut.

Sedang Thomas Young mempunyai pendapat lain. Menurut retina mempunyai kemampuan untuk mengadakan 3 macam warna pokok, yaitu merah, hijau dan biru (Harriman, 1958).

Kemudian teori dari Thomas Young ini diperkuat oleh Herman von Helmholtz, sehingga teori ini kemudian terkenal dengan teori Young Helmholtz.

Kedua teori tersebut di atas terkenal sebagai dua teori yang besar dalam masalah warna (two major theories).

c). BUTA WARNA

Kadang-kadang dijumpai orang yang tidak dapat membedakan warna satu dengan warna yang lain. Orang yang demikian ini disebut orang yang buta warna. Orang yang buta warna sebenarnya tidak buta, hanya ia tidak dapat membedakan warna. Buta warna ini bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kelainan, karenanya buta warna tidak dapat disembuhkan. Hal ini disehabkan karena dalam retina tidak terdapat atau kurang sempurna cones-­conesnya, di mana cones berfungsi untuk membedakan warna.

Dalam soal buta warna didapati adanya 2 golongan yang besar yaitu buta warna total atau keseluruhan, dan buta warna sebagian atau partial.

1). Buta Warna Total.

Orang yang buta warna semacam ini ialah orang yang sama sekali tidak dapat membedakan warna-warna yang dilihatnya, semuanya kelihatan kelabu. lni disebabkan karena dalam retina tidak terdapat cones, yang ada hanya basiles saja yang berfungsi membedakan gelap dan terang, yang menerima warna-warna achromatis yaitu kelabu, putih dan hitam (grays, whites, and blacks). Suatu keuntungan bahwa orang yang demi­kian ini relatif kecil jumlahnya. Telah dikemukakan di atas buta warna ini merupakan kelainan, karenanya tidak dapat disembuhkan.

2). Buta Warna Sebagian.

Orang yang buta warna sebagian ialah orang yang tidak dapat membedakan warna-warna tertentu saja. Buta warna sebagian dapat di­bedakan :

a)      Buta warna merah-hijau (red-green colour blindness)

Orang yang mempunyai buta warna jenis ini, ialah· orang tidak dapat membedakan antara kedua macam warna itu, kedua macam warna tersebut merupakan warna-warna yang sukar dibedakan.

” ….. Red-green colour blindness. The study of red-green colour blindness is very important for two reasons, fIrst, because of the frequency with which it occurs, and second, because of the colours which are confused. From its name it will gathered that red and green are the two difficult colours for such colour-blindness”.

Menurut V. Kries buta warna macam ini masih dibedakan :

1). deuteranopia (green blindness), di mana individu sukar membeda­kan warna hijau dengan kelabu.

2).  protonopia (red blindness), di mana individu sukar membedakan warna merah dengan coklat.

“Protonopia (red, blindness) is a condition in which S confuses reds with browns. Deuteranopia (green blindness) is a condition in which S confuses greens with grays”.

b)      Buta warna biru-kuning (blue-yellow blindness).

Orang yang buta warna jenis ini ialah orang yang tidak dapat mem bedakan kedua macam warna tersebut.

“The confusion colours of this form of colours blindness are, as it& name suggests, yellow and blue. In this case described by Richardson blue was seen as dazzling white”. (Collins & Drever, 1952 : 52).

Berhubung orang yang buta warna tidak dapat membedakan satu warna dengan warna yang lain, maka beberapa pekerjaan atau jabatan tidak menerima orang yang buta warna, misalnya pada perusahaan penerbang, apoteker dan sebagainya. Untuk dapat mengetahui apakah sese­orang itu buta warna apa tidak orang dapat menggunakan test. Diantaranya dapat digunakan :

1). Holmgren’s wool test

Test ini menggunakan pasangan-pasangan wol yang bermacam-macam warnanya. Masing-masing warna selalu dalam bentuk berpasangan. Orang yang ditest disuruh membedakan warna yang satu dengan lainnya, atau disuruh mencari pasangannya.

2). Jensen test

Yaitu menggunakan gambar dengan latar belakang (background) warnanya berbeda satu dengan yang lainnya. Misalnya angka dengan warna yang lain dengan warna latar belakangnya.

3). Spectral analysis

Yaitu mengetest dengan menggunakan spectrometer.

e.   PERSEPSI MELALUI INDERA PENDENGARAN

Orang dapat mendengar sesuatu dengan alat pendengaran, yaitu telinga. Telinga merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada di sekitarnya. Telinga dapat dibagi atas beberapa bagian yang masing­masing mempunyai fungsi atau tugas sendiri-sendiri, yaitu :

1)      Telinga bagian luar, yaitu merupakan bagian yang menerima stimulus dari luar.

2)      Telinga bagian tengah, yaitu merupakan bagian yang meneruskan stimulus yang diterima oleh telinga bagian luar, jadi bagian ini merupakan transformer.

3)      Telinga bagian dalam, yaitu merupakan reseptor yang sensitif yang merupakan saraf-saraf penerima.

Stimulus berujud bunyi yang merupakan getaran udara atau getaran medium lain. Dan sebagai respons dari stimulus itu orang dapat mendengar­nya. Bunyi dapat dibedakan atas :

a)      nada, yaitu bunyi yang getarannya telah teratur.

b)      desah, yaitu bunyi yang getarannya belum teratur.

Nada dapat dibedakan dalam :

I)       Keras tidaknya nada, hal ini bergantung kepada amplitude dari getaran. Makin besar amplitudenya, makin keras nadanya.

2)      Tinggi rendahnya nada, hal ini bergantung kepada frekuensi getaran. Makin besar frekuensinya makin tinggi nadanya.

3)      Timbre dari nada, hal ini bergantung kepada kombinasi dari bermacam-macam frekuensi.

Tiap-tiap nada merupakan nada yang tunggal (single) yang mempunyai sifat-sifat tersendiri.

Seperti halnya dalam penglihatan, dalam pendengaran individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu respons terhadap stimulus tersebut. Kalau individu dapat menyadari apa yang didengar, maka dalam hal ini individu dapat mempersepsi apa yang didengar, dan terjadilah suatu pengamatan atau persepsi.

Telinga di samping sebagai alat indera pendengaran juga sebagai alat untuk keseimbangan. Indera keseimbangan terdapat dalam telinga sebelah dalam, berkedudukan dalam vestibule dan sem-circular canals. Dalam vestibule dan semi-circular canals terdapat rambut-rambut sel serta otolithen, dan dalam saluran terdapat zat-zat cair. Kalau tumbuh terutama kepala dalam keadaan condong misalnya, maka rambut-rambut sel mendapatkan tekanan dari otolithen, yang kemudian hal ini disampaikan ke otak sebagai pusat kesadaran. Karenanya sebelum orang jatuh, sudah dapat mengubah posisinya terlebih dahulu.

f.    PERSEPSI MELALUI INDERA PENCIUM

Orang dapat mencium bau sesuatu melalui alat indera pencium yaitu hidung. Sel-sel penerima atau reseptor bau terletak dalam hidung sebelah dalam. Stimulusnya berujud benda-benda yang bersifat khemis atau gas yang dapat menguap, dan mengenai alat-alat penerima yang ada dalam hidung, kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak, dan sebagai respons dari stimulus tersebut orang dapat menyadari apa yang diciumnya yaitu bau yang diciumnya.

Mengenai soal bau ini menurut Henning adanya 6 bau yang pokok, sedangkan bau-bau lainnya merupakan kombinasi dari bau pokok tersebut.

Ke-enam bau pokok itu ialah :

  1. fruity (e.g. lemon)
  2. resinous (e.g. resins)
  3. flowery (e.g. violets)
  4. spicy (e.g. nutmeg)
  5. burning (e.g. tar)
  6. putrid (e.g. decaying matter).

(Collins and Drever, 1952 : 93)

g.   PERSEPSI MELALUI INDERA PENCECAP

Indera pencecap terdapat di lidah. Stimulusnya merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang diecap itu. Mengenai rasa ini ada 4 macam rasa pokok yaitu rasa :

  1. pahit
  2. manis
  3. asin
  4. asam.

Masing-masing rasa ini mempunyai daerah penerima rasa sendiri-sendiri pada lidah. Sedang rasa-rasa lain merupakan campuran dari rasa-rasa pokok ini.

h.    PERSEPSI MELALUI KULIT

lndera ini dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan dan temperatur. Tetapi tidak semua bagian dari kulit dapat menerima rasa-rasa ini. Pada bagian-bagian tertentu saja yang dapat untuk menerima stimulus-stimulus tertentu. Rasa-rasa tersebut di atas merupakan rasa-rasa kulit yang primer, sedangkan di samping itu masih terdapat variasi yang bermacam-macam.

Dalam hal tekanan atau rabaan, stimulusnya langsung mengenai bagian kulit bagian rabaan atau tekanan. Stimulus ini akan menimbulkan kesadaran akan lunak, keras, halus, kasar.

Stimulus yang dapat menimbulkan rasa sakit dapat bersifat khemis maupun electrical dan sebangsanya yang pada pokoknya stimulus itu cukup kuat menimbulkan kerusakan pada kulit, dan hal ini menimbulkan rasa sakit.

Tentang Dayat Chem

Putra Ramatuan Rambut ikal tapi ganteng githu loe
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Pengantar Psikologi Umum

  1. sangat berguna…
    merci…!

  2. lukman al Hakim berkata:

    izin copas gan, buat wawasan. thnks…:)

  3. zera berkata:

    semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang pahalany terus mengalir…
    Amien…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s