Bekisar Merah


Bekisar merah (Indonesian)
By KH. Ahmad Tohari

  • Publisher:   Gramedia Pustaka Utama
  • Number Of Pages:   312
  • Publication Date:   1993
  • ISBN-10 / ASIN:   9795117661
  • ISBN-13 / EAN:   9789795117667

Membaca novel ini, tampak Ahmad Tohari menolak radikalisasi di desa, dan lebih memilih menyerahkan nasib dan berdamai dengannya, nrima ing pandum. Radikalisasi petani dan mahasiswa yang meluas di tahun 1980-an sampai 1990-an akibat pembangunan waduk yang menggusur tanah-tanah petani tanpa ganti rugi yang layak tampaknya tak menggerakkan tangan Ahmad Tohari untuk menjadikannya prasasti perjuangan petani dalam novelnya ini. Dengan begitu apakah Ahmad Tohari menghindari politik dalam sastranya yang eksotis ini?

Tidak juga. Setting novel ini di samping kehidupan desa dan para penyadap pohon kelapa adalah juga kehidupan moral yang dianggap bobrok dari para pejabat (birokrat) negara. Kebobrokan ini, diceritakan dalam novel ini dimulai dari Istana dengan masuknya seorang gadis geisha ke istana negara pada awal dasawarsa 60-an dan kemudian bahkan menjadi ibu negara beberapa tahun kemudian. (h.137-138). Dari sini, orang akan diingatkan pada tokoh besar bangsa ini Bung Karno yang mengawini perempuan Jepang yang kemudian terkenal dengan nama: Dewi Soekarno. Kita pun diingatkan pada novel Mochtar Lubis, Senja di Jakarta (1970) yang menyerang Bung Karno. Moctar Lubis sendiri memang mengambil posisi politik yang berseberangan dengan Bung Karno. Untuk itu ia pernah dipenjarakan hampir 9 tahun dan koran yang dipimpinnya, Indonesia Raya pun dibredel. Senja di Jakarta sendiri ditulis di saat kekuasaan Bung Karno mulai runtuh.

Ahmad Tohari dengan novel ini jelas menyadari mental korup birokrasi Orde Baru yang dipimpin Jendral Soeharto dan slogan pembangunannya, politik no ekonomi yes, yang telah semakin memiskinkan orang-orang Desa Karangsoga. Tapi tak ada kesanggupan melawannya dan menerima nasib tentu sangat ironi dengan serangan moralnya terhadap Bung Karno yang telah 28 tahun tertinggal di belakang. Penindasan tanpa radikalisasi perlawanan dan menerima nasib kehidupan, begitulah pesan novel ini. Yang tentu saja tak sesuai dengan slogan orang paling lemah sekalipun: cacing diinjakpun melawan!

download here

Tentang Dayat Chem

Putra Ramatuan Rambut ikal tapi ganteng githu loe
Pos ini dipublikasikan di Novel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s