Melawan Fasisme Ilmu


Melawan Fasisme Ilmu
By Qusthan Abqary

ISBN: 978-602-95374-0-6

  1. Fasisme – layaknya dalam bidang politik – dipahami sebagai paham yang percaya bahwa tidak ada hal lain di luar dirinya yang lebih unggul. Sedangkan ilmu dipahami secara longgar, yaitu ilmu alam atau science sekaligus ilmu sosial atau social sciences. Istilah fasisme ilmu diperkenalkan oleh Paul Feyerabend – promovendus Karl Popper yang di kemudian hari menjadi “malin kundang” – dalam bukunya Against Method sebagai fascism of science dan hanya terbatas pada ilmu alam. Dengan kata lain, fasisme ilmu dapat dipahami sebagai situasi dan kondisi keilmuan yang percaya bahwa ilmu – baik ilmu alam maupun ilmu sosial – sebagai bentuk pengetahuan yang paling unggul dibandingkan dengan bentuk pengetahuan lain, entah astrologi, mitos, voodoo, santet, pelet, dan sebagainya.
  2. Kelonggaran penggunaan istilah ilmu lebih dikarenakan persoalan teknis kebahasaan (lihat halaman 45-50 dalam buku Melawan Fasisme Ilmu ) yang belakangan justru diikuti oleh kata science itu sendiri; tanpa bermaksud mengesampingkan persoalan konseptual yang dikandungnya. Di satu sisi, hal ini boleh jadi dipengaruhi oleh ambisi sebagian ekonom untuk menjadikan studi ekonomi sebagai golongan dari science layaknya ilmu alam, sementara bidang ilmu humaniora/sosial lainnya dianggap oleh sebagian orang sebagai belum layak untuk digolongkan sebagai science. Di sisi lain, sebagian pemikir menggunakan istilah science secara longgar untuk beberapa bidang keilmuan seperti science of heavens (Al Farabi/Seyyed Hossein Nasr), hingga menggolongkan mysticism as a science (Amaury de Riencourt). Dan pengetatan penggunaan istilah science hanya pada ilmu alam bukan tidak mungkin dipengaruhi oleh proyek empirisisme/positivisme.
  3. Feyerabend membangun anything goes melalui beberapa runtutan atau rangkaian argumen yang tak dapat dipandang secara terpisah. Pada awalnya, Feyerabend ingin mengkritisi standar penelitian dengan cara melakukan riset yang melanggar standar itu sendiri. Menurutnya, dalam mengevaluasi riset tersebut kita boleh berpartisipasi hanya dalam praktik yang tak ditentukan (unspecified) dan tidak dapat ditentukan (unspecifiable). Dari sini, Feyerabend mengklaim bahwasanya akan diperoleh hasil berupa: “riset yang menarik dalam khazanah ilmu-ilmu kerapkali mengarah pada revisi yang tak terkira mengenai standar-standar walau ini bukanlah niatan awalnya”. Meski demikian, Feyerabend tak lupa untuk memberikan penekanan bahwa anything goes bukanlah satu-satunya prinsip sebuah metodologi baru yang direkomendasikannya. Anything goes hanyalah upaya untuk menjalankan standar universal dari ilmu secara sungguh-sungguh, dan bertujuan untuk memahami sejarah ilmu, meski untuk yang terakhir ini Feyerabend tidak memberikan penjelasan yang komprehensif mengenainya (lihat halaman 27-8).
  4. Bagi sebagian orang, gagasan Feyerabend mengenai anything goes dianggap ngawur, ngeyel, hingga relativistik. Namun, bagi sebagian orang yang lain justru dipahami sebagai “…membuka pintu bagi bermacam-macam model alternatif demi pembaruan suatu ilmu (lihat halaman 11). Perbedaan reaksi dan respon terhadap pemikiran Feyerabend tentu tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari asumsi ontologis dan epistemologis seseorang dalam memandang ilmu. Relativisme bagi sebagian orang dipandang secara monolitik, sementara bagi sebagian orang yang lain memiliki keragaman jenis (Bruno de Latour). Sebagian yang lain bahkan menganggap bila kita percaya bahwa hanya Tuhan yang absolut, maka, sisanya menjadi relatif (bergantung pada Tuhan). Dan pemahaman relativisme sebagai paham yang percaya bahwa tidak ada otoritas sama sekali hanya menyisakan ketidaktahuan atas pemahaman bernada kebahasaan seperti related to (bergantung pada) guna memeroleh makna lain dari relativisme.
  5. Manifestasi (paling kongkrit) atas fasisme ilmu ialah respon reaksioner Amerika Serikat terhadap integrasi akupungtur ke dalam rumah sakit dan universitas di Cina pada dekade tahun 70an. Feyerabend pada masa itu justru mengadvokasi proyek integrasi akupungtur dan herbal di Cina. Kini justru sebagian besar praktik kedokteran di seluruh dunia turut berupaya mengintegrasikan metode pengobatan “modern” dengan “tradisional” a la akupungtur. Di belahan dunia yang sama, tepatnya India, justru mengalokasikan US$ 40.000.000,- untuk proyek berjudul Golden Triangle Partnership yang bertujuan mengeksplorasi dan mengintegrasikan pengobatan tradisional yang terdapat di dalam Ayurweda (lihat halaman 74 atau Economist, “Growing Wiser: India is testing its traditional medicines”, 16 Agustus 2007). Ironisnya, produk kesehatan tradisional seperti jamu justru tidak diintegrasikan ke dalam rumah sakit maupun universitas di Indonesia, meski sebelumnya sebuah universitas pernah membuka program diploma jamu dan kemudian ditutup tanpa alasan yang memadai. Sementara sebagian dokter yang praktik di Indonesia justru mempraktikkan akupungtur, herbal, naturopati, anthroposophical medicine yang kemudian ditemukenali sebagai “metode pengobatan komplementer” (saya bukan tukang obat jadi silahkan lihat Koran Tempo, “Tren Pengobatan Komplementer”, 18 Januari 2009).
  6. Lantas, apakah Feyerabend sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa ilmu (sebagai dirinya sendiri) akan menghasilkan atau bahkan meningkatkan kebebasan individu? Ilmu ialah bentuk pengetahuan sistematis yang memiliki wajah ganda, yang lebih tepat jika dipahami sebagai sesuatu yang berproses dalam gerak sejarah daripada sebagai barang jadi yang paling unggul. Kebebasan individu memiliki sifat elusif dan terbagi menjadi dua pengertian yaitu secara positif dan negatif yang memiliki keterbatasan tertentu. Anything goes sebagai sudut pandang penelitian berada di dua ranah kebebasan. Sisi eksternal anything goes berkait dengan kebebasan positif dan sisi internal berkait dengan kebebasan negatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam perspektif anything goes, ilmu dapat meningkatkan kebebasan individu dengan situasi yang unik dan khas karena terkait dengan pemaknaan terhadap ilmu yang berwajah ganda maupun sifat kebebasan individu yang elusif dan terbagi menjadi dua hal, yaitu secara positif dan negatif. Selain itu, perlu untuk membedakan antara asumsi idealistik Feyerabend mengenai ilmu dengan perkembangan ilmu pada masa ketika anarkisme epistemologi muncul. Secara ideal, Feyerabend masih menyisakan kepercayaan bahwa ilmu dapat meningkatkan kebebasan individu, baik individu ilmuwan maupun masyarakat awam, jika ilmu tidak lebih superior dan diposisikan setara dengan pelbagai bentuk tradisi pengetahuan lainnya. Namun, dalam kenyataannya justru sebaliknya. Banyak ilmuwan yang tergelincir pada metodologisme, fasisme ilmu dan chauvinisme ilmu, serta parahnya lagi terkungkung oleh scientism. Fenomena ini terjadi di tingkatan global, nasional maupun lokal seperti yang telah ditunjukkan dalam beberapa bab sebelumnya (lihat halaman 121-2).
  7. Pertanyaan yang membandingkan antara fasisme ilmu dengan krisis ilmu maupun sebaliknya, dalam batas tertentu dapat disebut sebagai sesat dan menyesatkan, terutama ketika tidak mencermati fasisme ilmu maupun krisis ilmu secara lebih spesifik dan mendalam, karena gagasan Feyerabend maupun Kuhn memiliki intensi yang berbeda. Bila Feyerabend melalui argumen preskriptifnya mendambakan magi, vodoo, dan astrologi dapat mengakses atau diajarkan di dalam sistem pendidikan dan setiap peserta didik dibebaskan untuk memilih mode pengetahuan yang akan dianut serta dipelajarinya; maka Kuhn dengan argumen deskriptifnya secara tidak langsung justru mengakui untuk tidak memberikan akses terhadap pelbagai mode pengetahuan untuk masuk ke dalam sistem pendidikan karena deskripsi historisnya tetap mengandaikan ilmu sebagai satu-satunya mode pengetahuan yang eksis dan setelah krisis memiliki tiga ekses yang berbeda.

download here

Tentang Dayat Chem

Putra Ramatuan Rambut ikal tapi ganteng githu loe
Pos ini dipublikasikan di Buku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s