Sabda dari Persemayaman


Sabda dari Persemayaman
By T.M. Dhani Iqbal

  • Publisher: Grasindo
  • Publication Date: 2003
  • Number of Pages: 320
  • ISBN: 9797321991, 9789797321994
  • Language: Bahasa Indonesia

Description:

Dialog-dialog mengenai perubahan peradaban memang bisa dipelajari lewat para filosofnya, terutama ide-ide mereka tentang perubahan itu sendiri. Namun SABDA DARI PERSEMAYAMAN, yang mau berusaha membahasakan campuran konsep atau ide perubahan kehidupan ke arah yang lebih adil, lebih baik, mencoba menaruhnya lewat potret para mahasiswa yang gelisah dan beraksi demonstrasi. Di manakah tempat bingkai teori untuk visi perjuangan? Dalam refleksi atau aksi,dalam teori vs aksi, ataukah kesaling mempertajam antara teori, refleksi dan aksi lewat rentetan wacana, dialog-dialog panjang nyata di kalangan tokoh-tokoh para mahasiswa ini? Di keluarga, di kampusnya, di jalanan, atau setelah dirumus di makalah? Manakah aksi riilnya? Semua sisi-sisi dan pertanyaan ini coba dipaparkan dengan bahasa novel Iqbal lewat SABDA DARI PERSEMAYAMAN. Selamat Membaca. – Mudji Sutrisno, Dosen STF Driyarkara, Jakarta

Revolusi… Revolusi… Itulah lagu yang sering kita dengar saat mahasiswa berdemonstrasi. Sayangnya cita-cita itu sampai kini masih belum terwujud. Pergantian rezim penguasa otoriter, korup dan menyengsarakan rakyat, justru dilanjutkan oleh penggantinya. Mahasiswa sebagai penjaga moral bangsa untuk mengetuk penguasa yang lalai kepada rakyatnya, seperti menemui jalan buntu. Novel ini, menjadi refleksi dari kegelisahan sang penulis yang juga seorang aktifis gerakan mahasiswa. Penulis berhasil memanfaatkan “pedangnya” untuk “membunuh” kehidupan yang kadang kala membuat jenuh dan frustasi. Apalagi ditengah bangsa yang sulit berubah, dimana koruptor masih dilindungi penguaa dan kejahatan penguasa masa lalu masih dipelihara penguasa masa kini. Penulis novel ini mengajak kita kembali merenungkan arti perjuangan, walaupun akhirnya menemui ajal atau jeruji besi. – Ahmad Taufik, jurnalis MBM Tempo, bekas aktivis gerakan mahasiswa.

Bertanya terus menerus pada diri sendiri dan orang lain tentang misteri kehidupan, memerlukan keberanian untuk tersesat dan bahkan terhempas. Semakin jauh berjalan, Sang Pengembara, semakin kehilangan bayangan garis akhir dari misteri kehidupan. Tapi bagi si pengembara, dia malah semakin lebih bertanya dan bertanya lagi. Bertanya dan bertanya teruslah Sang Pengembara, karena kamu tak kehilangan mata angin pribadimu! Tulisan ini membuktikan bahwa masih keras tergenggam kompas pemikiranmu.

– Slamet Rahardjo Djarot
Untuk Tengku Muhammad Dhani Iqbal

download here

Tentang Dayat Chem

Putra Ramatuan Rambut ikal tapi ganteng githu loe
Pos ini dipublikasikan di Novel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s